Sabtu malam lalu, aku singgah di suatu kedai nasi kucing di kota Salatiga. Kedai yang biasa. Sederhana. Persinggahan itu karena ada janji dengan seorang teman.
Masuk ke kedai yang temaram itu, penjaga kedai menatap mataku. Tatapan yang janggal. Sesekali matanya melirik, dan bertabrakan dengan tatapanku, saat ia mengaduk teh panas. Aku memulai obrolan dengan pesan minum dan bertanya menu.
Tak lama aku di sana. Hanya menghabiskan sebungkus nasi berlauk rica ayam. Saat aku hendak lekas dari kedai, si penjaga garuk-garuk kepala.
”Mas, aku kelihatannya pernah tahu kamu deh,” ucapnya, dalam bahasa Jawa pergaulan muda-mudi. ”Siapa aku?” tanyaku, sambil memasang senyum.
Ia tampak gelisah (atau pura-pura gelisah?) mengingat sebuah ”nama”. Mulutnya terbuka hendak mengucap, tapi tanpa suara yang terlempar. Ia ragu salah menjawab.
”Codot ya?” terkanya, agak pasti.
”Ha-ha-ha..,” aku tertawa, mengisi kedai yang sedang kosong itu.
Codot adalah panggilan kawan-kawan SMA-ku. Mulanya, beberapa dari mereka sulit menyebut ”Yod” —sapaan singkat dari Yodie—. Beralih jadi ”Dot” dan disederhanakan menjadi ”Codot”. Kebetulan dalam bahasa Jawa, kata ”Codot” punya arti: kelelawar atau binatang malam yang suka makan buah. Semasa SMA, aku tak begitu rajin keluar malam dibandingkan masa kuliah.
Temanku bernama Fajar, dipanggil ”HS” —akronim dari Hiper Sex—. Aku tak tahu persisnya kenapa panggilan lucu itu diperuntukkannya. Mungkin hasrat seksualnya begitu besar, hingga diceluk ”HS”.
Kawan perempuanku yang hitam manis, bahkan dipanggil ”Kebo” (dari kerbau). Padahal ia tak punya tanduk apalagi hidung dicocok. Nama Kebo, konon, ada sejarahnya. Sayang aku tak begitu tahu, meski bertahun-tahun bersamanya.
Cukup banyak temanku yang lebih dikenal nama informalnya, daripada nama KTP. Gembes, Gowor, Jambul, Ndawir, Popo, Temon, Bejo, dan sebagainya.
Apa artinya? Nama seperti itu mengandung makna penting dalam menjalin relasi. Ia menjadi semacam ”tanda” yang sangat mengingatkan. Bahkan kadang paraban (nick name) mencerminkan karakter seseorang. Ia termasuk bagian dari komunikasi.
Bukan berarti paraban lebih penting dari nama KTP. Ia punya fungsi sosial masing-masing. Atau dalam sastra, ”nama” itu menjadi tanda, simbol bahkan pemanis suatu imaji akan lakon. Pembayangan seorang perempuan sepi, anggun dan ”butuh cinta” dalam roman Bumi Manusia kita terdampar pada satu nama: Annelies Mellema.
”Nama” pun menjadi suatu pertemuan: ia semacam bukti bahwa pernah terjadi suatu keintiman —setidaknya jalinan sosial seberapapun eratnya itu—. Apapun dunianya, bahkan!
**
Suatu kedai kucing baru saja berdiri. Si penjaga sering sendiri. Hanya sesekali pengujung hinggap. Maklum, kedai baru. Peta pernasikucingan Salatiga dikuasai pemain lama.
Kebetulan, sesekali, aku butuh malam hari berbatin sepi dan intim. Aku ingin memenuhi ruang ”sepi” yang harus diisi: dengan sepi. Kedai belia di pinggir jalan yang ramai itu persinggahanku. Keramaian di sekitarnya menjadi pemanis dalam gairah sepi.
Aku dan penjaga kedai itu bertukar nama. Akrab. Aku memboyong serta teman-temanku ke sana. Menelan malam yang rutin. Antara penjual dan pembeli terbungkus kehangatan, yang acap kali, tidak pernah disadari. Sesekali, penjaga kedai berambut gondrong itu menceritakan masa lalunya yang kelam. Aku mendengarkan mantan preman berdongeng.
Terasa perbedaan eksotisme layanan barang dan jasa makanan, katakanlah antara ”tradisional” dengan ”modern”. Di kedai kopi Excelso, bisa jadi suatu keintiman saat pesan Cappucino tak akan tercipta. Apalagi saling mengenal. Apalagi di McDonald atau Pizza Hut!
Seingatku, usia perkenalanku dengan penjaga dan kedainya hanya sekitar satu-dua bulan.
Kemudian, aku bertemu keperluan-keperluan lain. Rasa-rasanya, ”kondisi” menggiringku ke suasana lain. Aku tidak pernah mampir lagi. Sepertinya, kita telah saling melupa. Tapi aku sering melewati kedainya yang sudah ramai hampir setiap malam. Senang rasanya melihat kedai yang dulu kesepian, kini telah ramai diisi orang-orang baru.
Tiga tahun berlalu. Kedai itu aku datangi lagi pada sebuah penghujung hitungan minggu. Aku dengan penampilan berbeda. Penjaga kedai itu tak lagi gondrong. Dan ia masih ingat ”Codot”.
Pun aku coba mengingat penjaga kedai itu. Namanya, Kampret.