Menarik dicermati, tiga calon presiden dan calon wakil presiden Indonesia 2009-2014: Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Jusuf Kalla-Wiranto.
Hampir seluruhnya terkait sejarah Aceh. Saat pernah berperan sebagai presiden, wapres, menteri atau militer.
Bagaimana cerita singkatnya?
Capres dan Hasil Pileg 2009
Empat tahun lalu, sebuah perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia digelar di Helsinski, Finlandia. Crisis Management Initiative —lembaga asuhan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari— menjadi mediator.
Hasilnya? GAM gagal memerdekakan Aceh. Tawaran ”otonomi khusus” dari pemerintah juga gagal.
Jalan tengahnya adalah ”solusi kalah-kalah” (bukan win-win solution). Nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani 15 Agustus 2005 itu membuahkan pemerintahan sendiri (self-government) bagi Aceh. MoU ingin menyelesaikan konflik secara permanen, menuju Aceh baru.
Undang-undang Pemerintahan Aceh kemudian lahir. Partai politik lokal (parlok) dibolehkan dan syariat Islam di daerah berpenduduk mayoritas Islam itu kian kokoh. Ulama Aceh terkenal, Daud Beuereuh pernah memperjuangkan syariat Islam semasa Orde Lama. Berkat MoU, orang-orang GAM sekarang punya alat perjuangan “resmi”.
Dampaknya? Salah satunya, popularitas Partai Demokrat meroket. Partai berlambang ”bintang tiga arah” meraih suara mayoritas pemilu legislatif (pileg) 2009 sebesar 40,87 persen di Aceh. Nyaris dua kali lipat perolehan suara nasional (20.85 persen). Fantastis? Pada Pemilu 2004, Demokrat tidak masuk lima besar di Aceh. Pemerintahan SBY berkemauan politik dan konsisten menyehatkan hubungan RI-GAM dengan pengobatan dialogis.
Demokrat menuai apa yang ditanam patronnya —Presiden SBY— di Aceh. Apalagi setelah MoU, kondisi Aceh berangsur aman dan damai. Sepertinya, incumbent itu meraih citra baik sebagai ”pembawa damai”. Inikah bekal berharga capres SBY meraih dukungan rakyat Aceh dalam pilpres 2009?
Apakah hanya SBY yang berjasa dalam MoU? Tidak. Capres nomor urut 3, Jusuf Kalla juga berperan penting membidani MoU. Peran besar JK dimulai sejak menjabat Menteri Koordinator dan Kesejahteraan era pemerintahan Megawati (2001-2004).
JK menggunakan “diplomasi jalur kedua” (second track diplomacy) dengan mengirim orang Makassar untuk mendekati serta membangun kepercayaan dengan orang-orang GAM. Maklum, GAM susah percaya Indonesia yang dianggap ”sering bohong”.
Dalam buku Konflik dan Integrasi Politik Gerakan Aceh Merdeka karya Moch. Nurhasim (2008) diceritakan proses ”PDKT” orang suruhan JK terhadap GAM, dari perkumpulan Aceh di Benhill, Jakarta sampai Swedia.
Hasilnya? Cukup manis. Saat JK menjabat wapres (2004-2009), interaksi RI-GAM melahirkan komitmen politik MoU. Sekali lagi, MoU adalah momen penting menuju Aceh baru (serta damai!) dan tidak lepas dari kinerja pemerintahan duet SBY-JK.
Anehnya, pada pemilu 2009 Partai Golkar —partai yang dipimpin JK— hanya mendapat 193.631 suara (10,53 persen). Sangat jauh dari Demokrat. Padahal, pada pemilu 2004 Golkar menang: mengkuningkan 10 kabupaten/kota di Aceh!
Pun setelah Orde Baru bubar, partai beringin selamat dari rentetan tuduhan negatif yang dialamatkan kepada rezim otoriter Orba. Orba adalah masa kegelapan dan duka mendalam rakyat Aceh.
Nah, siapa capres yang kerepotan di Aceh? Agaknya, Megawati.
Capres perempuan itu pernah pasang curiga. Menurutnya, parlok adalah pintu masuk kemerdekaan Aceh. Terlepas benar atau tidak kecurigaan Mega, parlok kuat di Aceh ketimbang parnas (partai nasional).
Buktinya, Partai Aceh sukses meraih 33 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Partai Aceh dihuni banyak bekas kombatan GAM. Tahun 2006, pemilihan kepala daerah Aceh juga tidak memberi tempat untuk parnas.
Menilik perolehan suara partai bernahkoda Mega, pada Pemilu 1999 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan masih mampu meraup suara lumayan di timur Aceh. Saat itu, Mega–rezim Orba terasa bersebrangan. Ketokohan Mega lekat dengan PDI-P.
“Khusus kepada saudara-saudaraku di Aceh, bersabarlah. Bila kelak Cut Nyak memimpin negeri ini, tak akan saya biarkan setetes pun darah rakyat menyentuh Tanah Rencong yang begitu besar jasanya dalam menjadikan Indonesia merdeka. Kepada kalian saya akan berikan cinta saya,” kata putri Bung Karno itu di depan rakyat Aceh, 29 Juli 2003.
Pada pemilu 2004, PDI-P gagal meraih suara signifikan di Aceh. Juga pemilu legislatif 2009 yang baru berlalu. Mengapa?
Ingatlah. Setelah gagalnya kesepakatan penghentian permusuhan Cessation of Hostilities Agreement (CoHA), Pemerintahan Mega menelurkan darurat militer di Aceh. Berlandaskan Keppres No 28 Tahun 2003, kebijakan itu membuat Aceh mencekam. Ribuan pasukan ditempatkan. Pengungsi berduyun-duyun. Korban sipil berjatuhan. Entah berapa tetes darah tumpah di Tanah Rencong.
Sang Cawapres
Cawapres JK yaitu Wiranto, pun sedikit banyak terkait sejarah Aceh. Tahun 1998, Ia meminta maaf dan mencabut Daerah Operasi Militer (1989-1998). Tahun 1999, Wiranto sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan mengirimkan Pasukan Penindak Rusuh Massa dari Jakarta ke Aceh dengan alat tempur lengkap dalam Operasi Sadar Rencong (KontraS, 2006).
Episode kekerasan dan pelanggaran HAM berlanjut meskipun DOM sudah dicabut. Seperti tragedi pembantaian Teungku Bantaqiah beserta santri, penembakan massal di Simpang KKA, pembantaian Idi Cut dan peristiwa Gedung KNPI, Lhokseumawe. Bahkan, Operasi Wibawa diplesetkan sinis Operasi ”Wiranto Bantai Warga Aceh” (Pantau, Agustus 2002). Apapun itu, Wiranto belum terbukti bersalah atas pelanggaran HAM di Aceh.
Mantan Panglima TNI yang sering dikaitkan masalah Timor Timur ini berpasangan dengan JK yang orang Makassar. Pasangan berslogan ”Lebih Cepat, Lebih Baik” dianggap cerminan keberagaman Indonesia. Mitos presiden Indonesia adalah orang Jawa tidak berlaku bagi ”JK-Win”.
Semasa pemerintahan militer Orba, sempat timbul sentimen kedaerahan, khususnya terhadap pendatang Jawa akibat peminggiran pribumi Aceh dalam kebijakan ekonomi-politik. Lengsernya Soeharto tahun 1998, diikuti eksodus pendatang Jawa seiring memanasnya tuntutan referendum. Hal ini menjadi catatan penting apabila pilihan akan capres-cawapres didasarkan latar belakang primodial.
Bagaimana dengan Prabowo Subianto? Terlalu dini untuk dapat menggenggam Aceh, pun dengan Partai Gerindra-nya yang bayi. Label ”mantan militer” tidak dapat lepas begitu saja meski Prabowo gencar beriklan dan gembar-gembor ”ekonomi kerakyatan”. Saat DOM yang mengerikan itu, Prabowo menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus.
Prabowo pun belum terbukti bersalah atas serangkaian pelanggaran HAM semasa DOM. Jurnalis-cum-sastrawan Linda Christanty dalam tulisan ”Markaz Al Ishlah Al Aziziyah” (acehfeature.org, 2008) membuat satu bingkai sosok cawapres terkaya itu.
“Itu gambar kafir, pembunuh orang tua kami,” tulis Linda, mengutip tuturan kata anak kecil di Banda Aceh yang melihat tabloid berhalaman muka Prabowo.
Pembunuh? Apa mau dikata. Konflik berkepanjangan yang kabur kebenarannya membuat para korban menetapkan sendiri sosok yang disalahkan. Tampaknya rekam jejak dan citra ”Mega-Pro” begitu buruk di Aceh. Resiko masa lalu?
Hanya sosok serta latar belakang Boediono yang tidak begitu familiar dengan Aceh. Bisa jadi keuntungan SBY karena mengusung cawapres ”bersih dosa” di Aceh, meskipun keduanya orang Jawa, dituduh ”neolib” pula.
Saya kira ”SBY-Boediono” yang punya kans kuat di serambi Mekkah. Koalisi parpolnya pun partai besar ”Islami” (PKS, PPP, PKB, PAN) yang kebetulan masuk DPRA. PPP adalah pemenang pemilu di Aceh tahun 1977, 1982, 1999. Dan tentunya, kalkulasi politik saya ini bisa meleset.
Yang Terpilih
Siapapun presiden dan wapres Indonesia yang terpilih: perlu dan pentingnya di Aceh adalah merawat perdamaian. Siapa tak suka melihat rakyat Aceh tersenyum?
*) Dimuat di Scientiarum, Juli 2009
assalamu alaikum wr. wb.
Eh, Saudara2ku di penjuru dunia maya, gimana kabar kamu sekeluarga?
Semuanya baik2, sehat2, & tetep-beriman, aja kan?
alhamdulillah… akhirnya pilpres 2009 dapat berjalan aman dan lancar.
/* Lho, mulai nggak nyambung… halah, sambung2in aja deh. */
Selamat kepada semua pihak yang telah turut berpartisipasi!
Selamat menanggung amanah rakyat yang telah dibebankan kepada Anda dengan baik.
Selamat memanfaatkan sisa umur Anda untuk mengabdi kepada Allah & melayani umat.
Dan masih banyak lagi selamat lainnya yang tidak cukup ditulis di sini.
Eh, ByTheWay-AnyWay-BusWay… gimana pilihan kamu kemarin?
alhamdulillah… /* saya nggak tau sih, yang penting kita syukuri aja */
Eh, tapi ngomong2… kamu tau nggak, kalo kondisi negeri kita sekarang ini udah sangat memprihatinkan bangetz?
Nggak percaya? Mau bukti? Beneran? Yakin?
Ya elah, kemana aja, Loe?
Kelamaan camping ke Planet Saturnus? Masa gitu aja gak tau?
Lihat tuh, di koran2, di web2, di tv2… atau di jalan2, ada banyak!
Nih, saya kasih website referensi yang terpercaya, buka di web browser:
http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
pokoknya banyak deh, di website lainnya, browsing aja sendiri…
Terus, sekarang gimana… apa yang bakal kamu lakuin?
Masih gak peduli sama nasib Saudara2 kita yang tersesat & terdzalimi?
Pindah ke Planet Pluto aja, Loe! Bumi udah sumpek!
Buat kamu2 yang kemarin ikut golput pemilu 2009,
apa kamu pikir kalo kita cuma golput, tau2 sim-salabim, negeri kita jadi makmur sejahtera, happily everafter… dll. dsb. dkk.?
Terus, buat kamu2 yang kemarin ikut nyontreng pemilu 2009,
apa kamu pikir kalo kita cuma nyontreng, tau2 abra-kadabra, negeri kita bisa selamat dengan sistem seperti sekarang?
Terus terang aja Saudara2, sekedar golput itu bukan solusi yang tepat!
Terus terang juga, sekedar nyontreng itu juga bukan solusi yang tepat!
Lha, terus kalo gitu solusi yang paling tokcer, apaan donk?
Solusi yang paling ampuh adalah Islam!
Huahahaha…3x uhuk…2x!!
Hah, masih gak percaya lagi? Udah pernah belajar Islam di sekolah, belum?
Udah tahu belum, kalo Islam itu lebih dari ibadah ritual?
Kalo belum, balik lagi ke SDN Planet 204-Nebula, sana!
Nih, saya kasih website referensi yang terpercaya, buka di web browser:
http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
pokoknya banyak deh, di website lainnya, browsing aja sendiri…
Buang semua sistem sekuler & anak cicitnya yang selama ini menggerogoti kehidupan kita! (misal: kapitalisme, liberalisme, demokrasi, dll.)
Sistem sekuler, yang misahin unsur agama dalam kegiatan se-hari2, sudah terbukti bikin manusia lupa sama Allah!
Aturan Allah di-injak2, /* kayak cucian aja, emang Nabi nyuruh nginjak2 Qur’an */
diganti sama aturan bikinan manusia yang dibuat dengan seenak udel mereka sendiri,
/* udel kok enak? emangnya donat? */
sehingga banyak manusia yang terlena gara2 nuruti hawa nafsunya!
Mari kita kembali ke jalan yang benar!
Mari kita bangkit, sebelum kita dibangkitkan!
Karena sistem yang ada sekarang ini, cuma dijadikan alat oleh para penjajah untuk memenuhi hawa nafsu mereka!
Sistem yang penuh dengan bug, unhandled data, troubleshooting, bad sector, dll…
[system error]
Sudah saatnya kita ganti sistem “bobrok-bin-destructive” buatan manusia ini dengan sistem yang lebih baik, SISTEM ISLAM!!
Islam, sudah terbukti & teruji untuk mengatasi segala tantangan & mampu menjawab berbagai problematika umat!
/* Kok jadi kayak iklan di TV? Whatever lah… */
Q: Ok, lah… masalahnya emang terletak pada sistem yang rusak, sehingga bikin kondisi negeri kita jadi berantakan kayak gini. Terus… hubungannya sama gue, apa?
A: Ya elah, Coy! Masih belum sadar juga? Pindah ke Planet Uranus aje, Loe!
Kita sebagai warga negara yang baik, harus mulai menyelamatkan bangsa & negeri ini, dengan Islam!
Inget Saudaraku sekalian, kita adalah bagian terpenting dari negeri ini!
Kita semua adalah pemimpin yang udah diserahi amanah sama Allah.
Wih, enak… gak perlu repot2 ikut pemilu, langsung dijadiin pemimpin!
Eits, ada tapi-nya… habis kiamat nanti, kita semua harus BERTANGGUNG JAWAB atas setiap amanah yang telah diberikan kepada kita!
Salah satu hal yang dimintai pertanggungjawaban yaitu, AMANAH KITA SEBAGAI SEORANG WARGA NEGARA, TAU….???
Maka dari itu, Anda2 sekalian juga harus terlibat!
Hihihihi… mau kabur, ya? (^A^)
Terus… masalahnya sekarang, kita mau jadi pemimpin kayak gimana?
Mau jadi pemimpin yang nurutin hawa nafsu, & berujung pada kehinaan & kerusakan?
atau jadi pemimpin yang taat sama Islam, & berujung pada kemenangan & kebaikan?
Cuma kita yang bisa nentuin! Choose your own path! Ciee…!!! Karena…
Perubahan sejati adalah perubahan menuju arah yang lebih baik,
yang dimulai dari pemikiran, perasaan, & cara hidup kita,
berawal dari cinta & niat yang bersih, tulus, setia, & lurus,
disertai dengan cahaya ilahi yang senantiasa menyinari hati,
tiada Illah (yang dicintai, dipatuhi, & disegani) selain Allah.
/* Rada gak nyambung lagi, y? Sambung2in lagi aja deh! */
Maka dari itu, Saudaraku sebangsa setanah-air…
Kita bangkit untuk menerapkan Islam, yuk!
Secara sempurna dan menyeluruh.
Mulai dari diri sendiri…
mulai dari yang sederhana…
dan mulai dari sekarang…
Si Jacko (King of Pop) aja mau ber-Islam, masa kita nggak mau?
Yuuk? Yuk, iya, iyuuu….uuk! /* jayus bangetz sich */
Karena Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa…
dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
Semoga kita semua bisa meraih kembali kejayaan umat negeri ini, dengan Islam.
Udah dulu, cukup Sekian “invitation letter” dari saya.
InsyaAllah, semoga surat cinta ini bisa sedikit “menggelitik” relung hati Saudara2.
Terserah, situ mau nganggep saya gila atau sinting,
mau cuek silahkan… mau ikut silahkan… tanggung sendiri konsekuensinya…
yang penting sekarang tanggungan saya sudah berkurang, fiuh… (^o^)’
Oh iya, hampir kelupaan… ma kasih atas perhatian ‘n kerja samanya. (T_T)
Tolong maafin saya, kalo ada kata2 yang salah atau kurang berkenan,
soalnya saya memang rada2 emosional pas ngomongin masalah ginian, harap maklum.
Sekali lagi, ma kasih y, cuma Allah yang bisa mbales… (T_T)
wassalamu alaikum wr. wb.
NB: Please Read Me…
Kalo pesennya kebanyakan, gak usah ditampilin juga gak apa2, kok.
Kalo ada kesempatan, tolong mampir ke sini ya, Ma kacii… (^_^)
http://www.almawaddah.or.id
http://www.eramuslim.com
http://www.harunyahya.com
http://www.hidayatullah.com
http://www.hizbut-tahrir.or.id
http://www.islamic-center.or.id
http://www.majalah-elfata.com
http://www.muslim.or.id
Mohon maaf buat produsen majalah lain, kalo saya cantumin satu2, g cukup.