Indonesia kelar menggelar Pemilu legislatif. Sebagai warga negara, awalnya saya hendak tidak ikut andil hajatan demokrasi lima tahunan ini. Saya cenderung bersikap apatis, sinis dan apolitis. Terlebih, ditambah kemuakan saya melihat wajah-wajah artifisial calon legislatif bertebaran di setiap sudut kota dan desa melalui beragam media seperti selebaran sampai baliho. Bahkan promosi caleg tak kalah menggelikan dengan promosi sedot WC yang sama-sama tertempel di pepohonan.
Saat 9 April 2009, hari H-nya hajatan tersebut, saya datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di RT 4 Dliko Indah, Salatiga, bersama keluarga. Saya memutuskan nyontreng. Di ”hati kecil”, saya mendukung sebuah partai yang platform ideologinya pas dengan harapan saya. Saya tidak nyontreng caleg, tapi hanya partai. Saya memilih untuk tidak tergabung dalam golongan putih. Mencontreng adalah pilihan, dan bukan berarti penyontreng lebih inferior ketimbang ” korps golput”.
Namun, saya tidak ingin bicara banyak soal politik, kelingking berwarna ungu, demokrasi atau pilihan. Selain saya tidak begitu mudeng, saya lebih tertarik bercerita mengenai liburan usai pemilu itu. Saya berlibur ke Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Liburan singkat yang tidak sia-sia.
Di sana, saya jadi penari dadakan.
~I
Saya kenal Purnawan Andra ketika ikut pelatihan menulis artikel di Kompas, Semarang tahun 2008. Ia mahasiswa jurusan tari Institut Seni Surakarta. Tulisannya mengenai seni-budaya sampai isu kontemporer dimuat di berbagai media, dari Kompas sampai Lampung Pos. Rambutnya gondrong keriting. Kredo tampilan seniman.
April 2009, kami berjumpa lagi namun secara virtual melalui Facebook. Suatu ketika, ketika kami sedang barengan online dan lantas chatting, Andra mengajak saya datang ke Selo untuk nonton pertunjukan seni ”tanen”. Saya menolak. Dengan alasan, saya terikat untuk menyelesaikan tugas kuliah (yang menjemukan itu), dan berbagai laporan kegiatan di kampus.
Setelah saya pikir-pikir, kegiatan seni semacam itu akan sangat jarang ditemui ketimbang tugas dan tetek bengek perkuliahan (yang belum tentu menyenangkan). Mendadak, saya memutuskan untuk hadir. Saya langsung memberi kabar dan meminta Andra akan ancer-ancer jalan. Tugas-tugas saya lupakan sejenak. Biarlah, saya kerjakan setelah pulang dari sana. Saya ingin memuaskan hasrat berwisata dan jalan-jalan yang sering direnggut oleh kelas kuliah dan tugas.
Kebetulan, Bejo, kawanku di kampus juga sedang online di Facebook. Saya mengajaknya ikut serta nonton kesenian ”tanen”. Siapa tahu, ajakan ini dapat berguna baginya untuk menambah wawasan dan pengalaman. Bejo adalah mahasiswa dan calon guru SD yang tampaknya sedang semangat belajar menulis.
Bejo mau.
~II
Jumat, 10 April 2009, suasana kota Salatiga tidak begitu ramai. Saya melihat jalan begitu lengang ketimbang hari biasanya. Mungkin warga Salatiga memilih berdiam di rumah atau terkonsentrasi di pusat keramaian. Daerah sekitar kampus UKSW pun, sepi bukan main. Kebetulan, hari itu umat Kristiani merayakan Paskah. Banyak mahasiswa mudik untuk libur panjang dan mungkin, sibuk mengurus perkara nyontreng. Saya suka Salatiga yang sepi, yang tidak ”berisik”.
Pukul 14.00 saya bergegas dari rumah dan menjemput Bejo di Jalan Kartini Salatiga. Saya mengendarai motor Yamaha Mio berwarna merah marun yang jadi tunganggan saya sehari-hari. Baru kali ini Mio saya ajak ke daerah dataran tinggi seperti Selo yang terletak di kaki Gunung Merbabu.
Di daerah Tengaran, Kabupaten Semarang, perjalanan kami terhambat kendaraan padat merayap. Sepertinya ada kecelakaan. Benar, tampak sebuah truk terbalik menutup separuh badan jalan. Di balik truk, terdapat sepeda motor, mobil Kijang dan Avanza yang remuk berat. Kecelakaan karambol hebat. Menurut berita Suara Merdeka, tidak ada yang tewas, namun pengendara motor luka parah. Saya merinding melihat besi-besi itu tanpa hancur dan tergolek setelah bertubrukan.
Perjalanan menuju Selo, juga dibarengi dengan bocornya ban Mio dua kali. Pertama, di Boyolali. Kedua di Pasar Gebyog, Selo. Apes benar. Selain kaitan dengan dana, menuntun motor matik yang bannya bocor tidaklah seringan menuntun motor bebek. Huh…
~III
Sampai di Pasar Gebyog, seorang warga Grintingan yang diminta tolong (disuruh?) oleh Andra menjemput dan menggiring kami ke daerah tujuan. Itu sekitar pukul 15.30. Udara Selo sangat sejuk. Suasana pedesaan yang tidak seramai Salatiga. Bentuk jalan raya yang berkelok-kelok, dipagari rerimbunan rumput hijau dan jurang. Matahari malu-malu untuk angkuh pada sore itu. Perjalanan ini seolah membelah perbukitan. Ah, saya suka perjalanan seperti ini: sore, sepi dan sejuk. Enak nian, Cuk!
Sampai di Dusun Grintingan, suara keras mikrofon menggema di balik perbukitan. Tetabuhan gamelan mengisi ruang suara. ”Babak pertama” acara kesenian sudah dimulai sejak pukul 15.00. Kami sampai di lokasi pukul 16.30, disambut oleh penduduk Grintingan dengan hangat. Tangan kami disalami.
Pertunjukan seni tanen sedang berlangsung. Saya dipanggil Andra masuk ke lingkar dalam arena pertunjukan. Arena itu sebenarnya pekarangan rumah penduduk yang disulap sedemikian rupa, plus panggung untuk para pemain gamelan. Musik dan gerak tari menghidupkan sore yang dingin itu.
Andra sore itu mengenakan kaos kuning bertulis Dead Poets Society –merujuk pada sebuah film drama di tahun 1989 yang dibintangi Robin Williams. Setelah berbincang sebentar mengawali pertemuan dengan Andra, saya mengambil foto pentas tari. Saat itu sedang sesi tarian ”Janung” (jaran gunung). Penonton riuh mengomentari para penari yang gerakannya mulai tidak teratur.
Keriuhan tari perlahan semakin menjadi. Saya yang masuk ke dalam pagar pembatas agar mampu mengambil foto dari jarak dekat, dibuat kaget setengah mati dengan adegan-adegan yang terjadi. Beberapa penari ”kesurupan” (hei, apakah istilah ini sesuai?). Suasana semi khaos. Ada yang berlari di tengah arena. Ada yang bergerak dengan ritme tidak karuan. Tatapan mata penari tersebut kosong. Beberapa penduduk kemudian masuk ke tengah arena “menjinakkan” para penari dengan menyuguhkan sebaskom air kembang di atas tanah. Penari yang kesurupan itu meminumnya dengan cara menelungkupkan badan! Setelah minum, penari tersebut rebah di tanah, agak kejang-kejang. Tanpa dikomando, beberapa warga menggotongnya masuk ke dalam rumah. Saya takut setengah mati, takut kesurupan, atau diserang penari yang kesurupan!
Ketegangan saya agak mereda setelah pentas ”Janung”, para penari cilik berusia SD mengisi ”selingan”. Mereka sangat jago menari dan jungkir balik di atas tanah. Gerakan mereka lincah dan memancing siulan serta tawa penonton.
Menurut Andra, bergairahnya kesenian di daerah ini, diawali dengan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa ISI Surakarta di tahun 2007. Mahasiswa ”memancing” warga desa untuk berkesenian dan berhasil. Setelah kegiatan KKN itu rampung, ada “bekas” yang ditinggalkan yaitu dorongan untuk berkesenian. Di daerah seputar Selo, hanya Dusun Grintingan yang tidak berkesenian. Padahal, di era ‘80-’90-an, Grintingan merupakan ”pusat” kesenian di daerah Selo.
Urusan dana, warga desa Grintingan mengumpulkan secara kolektif. Dana itu pernah terkumpul mencapai 1,8 juta rupiah. Dari awalnya meminjam gamelan, kini sudah punya gamelan sendiri. Urusan menari, para penari yang sebagian besar terdiri dari remaja tanggung, belajar bersama Andra. Latihan juga sarat improvisasi gerakan yang diterjemahkan dari aktivitas sehari-hari yaitu tani (tanen).
”Pada dasarnya mereka ingin beda,” kata Andra. Kegiatan berkesenian itu mengantarkan mereka manggung sampai di Ponorogo. Simak lirik lagu yang mengiringi ”tanen”:
He prakanca aja bingung
ayo jaga gunung-gunung
Merbabu lan Merapi
lumakune konservasi
uga penghijauan iki
dadi sarana sayekti panguripan
warga ing Lencoh, Selo
Setelah selingan dari penari cilik, tiba sesi terakhir pada “babak pertama” yaitu tarian ”Buto Grasak”. Para penari mengenakan kostum warna warni, klintingan di kaki, dan topeng hampir serupa barongsai. Gerakan penari tarian ini cukup harmonis. Saya menyebutnya: “keterpaduan” penari dengan penari lainnya. Namun, beberapa saat kemudian, suasana lingkar dalam arena kembali khaos. Topeng penari dibuka. Kostum juga. Mereka “ndadi”. Kesurupan lagi. Saya jadi takut lagi.
~IV
Babak kedua pertunjukan seni dijadwalkan pukul 21.00. Saat matahari baru saja tergelincir, saya dan Bejo diajak jalan-jalan berkeliling desa oleh Andra. Saya juga berkenalan dengan banyak warga Dusun Grintingan. Kami dijamu makan di rumah Parmin. Parmin-lah yang menyelenggarakan hajatan kesenian itu karena ingin memenuhi nazar. Kesenian ”tanen” biasa digelar dalam rangka selamatan nazar atau tanggal 15 Sapar sebagai ritual upacara mohon berkah keselamatan dan kesejahteraaan bagi masyarakat setempat.
Warga desa itu ramah sekali. Sewaktu saya mengikuti kegiatan kampus berupa ”tinggal di desa” yaitu Galang Karya Manunggal di Dusun Ngaduman, Getasan di tahun 2008, saya juga merasakan keramahan serupa. Kenapa ya, warga desa itu bisa ramah (ketimbang warga kota)?
Setelah perut kenyang, kami singgah di salah seorang rumah penduduk. Kami bercengkrama di depan tungku kayu bakar. Obrolan demi obrolan mengalir. Dari soal menulis di media massa, gojekan sampai tawaran untuk ikut menari ”Buto Grasak” nanti malam. Ha? Menari?
Saya agak takut. Waduh, bisa-bisa kesurupan nih. Apalagi kalau roh halus yang memasuki fisik saya, ikut pulang ke Salatiga. Bisa repot, Mak! Nanti kelakuan saya di kampus tambah aneh.
Tapi saya memutuskan untuk menari. Saya ingin membuktikan, saya tidak akan kesurupan. Bejo yang juga ditawari awalnya emoh, namun akhirnya mengiyakan. Andra kemudian meminta salah seorang anak untuk mengurus persiapan kostum dan make-up kami. Saya sendiri agak khawatir karena tidak bisa menari, bahkan ini adalah pengalaman menari pertama di kehidupan saya. Namun, beberapa warga ”menenangkan” dan mendukung saya. Intinya, saya hanya disuruh gerak luwes dan semampunya ikut gerakan penari di depan saya. Ha ha ha!
~V
Kami bergegas ke rumah yang pekarangannya digunakan pentas. Para penari sibuk menggangti kostum. Perias dengan cermat mendandani wajah penari. Sekelompok penari berkumpul di depan pintu membahas gerakan dan formasi. Wow.
Saya duduk menunggu giliran dirias dan sesekali mengambil foto aktivitas malam itu. Beberapa warga mengajak saya bicara. Warga desa itu menarik. Mereka jujur, polos sikap yang tidak dibuat-buat dan tidak jaim macam anak di kota. Mereka bercerita tentang menari, mencari kerjaan sampai keinginan untuk berwisata ke Jakarta. Malam yang dingin terselimuti oleh obrolan hangat.
Saat giliran dirias, saya tetap tidak dapat memusnahkan rasa khawatir. Hei, bagaimana saya menari nanti? Apakah saya bisa? Bukankah saya termasuk orang yang amat sangat pasif? Ditonton orang banyak pula pertunjukannya!
He he he, lantas saya ingat suatu peristiwa saat sekolah di SMAN 1 Salatiga. Saat itu sekolah menggelar ujian sekolah bahasa Indonesia. Ada tuntutan bagi per kelas untuk membuat drama. Kelas saya, XII IPS 3 menggelar drama mengenai cinta pemuda desa. Pas hari pembagian pemain, saya bolos sekolah. Alamak, oleh sutradara drama kelas, saya dipilihkan peran malaikat (angel) karena kabarnya, siswa lain tidak ada yang mau peran ini!
Pesimisme merundung. Saya merasa tidak bisa berakting. Namun, setelah dapat dorongan dari kawan-kawan, saya akhirnya berani. Malah ketika berada di atas panggung, saya mendapat banyak apresiasi dari penonton, termasuk dari adik kelas yang manis-manis. Entah, apresiasi itu timbul karena akting saya atau faktor lain
Saat dirias menjadi buto (raksasa), saya akhirnya mengambil sikap cuek untuk menari nanti. Inilah proses belajar yang berbasis dari praksis, bukan teori. Kadang saya merasa jenuh dengan teori di kampus.
Meski agak gelisah urusan menari nanti, Saya pasang wajah anteng saja, ketika Andriani Agustina memotret wajah saya yang sedang ”digambar”. Andru (panggilan akrab Andriani) adalah perempuan yang nempel terus dengan Andra di Grintingan. Andru bekas reporter tabloid Nova. Saya lupa menanyakan status hubungan Andra-Andru. Apakah teman, sahabat, pacar atau suami-istri.
~VI
Beberapa saat lagi pentas ”Buto Grasak” dimulai. Saya sudah lengkap dengan kostum dan topeng. Instruksi dipaparkan oleh salah seorang penari. Saya terkekeh-kekeh di balik topeng: ya ampun, apa yang terjadi setelah ini? Apakah saya akan kesurupan? Malam dingin ini benar-benar terasa panas.
Der! Tiba saatnya. Penari memasuki arena. Saya bergerak sebisanya, masuk ke formasi, mengikuti alunan musik dan gerakan penari di depan saya. Tangan saya meliuk-liuk seperti gurita. Kaki kaku seperti kuku jari sakit. Tentu saja gerakan saya kacau balau. Tak ada irama serempak atau ”keterpaduan”. Lha wong ini menari mendadak kok!
Gelak tawa sayup-sayup terdengar berbarengan dengan kerasnya dentingan suara gamelan. Tampaknya tertawaan itu ditujukan kepada saya yang tak bisa menari. Ketegangan saya agak cair. Ah, cuek saja Bung! Menari kita bisa! Hi hi hi!
Gerakan-gerakan semakin cepat. Beberapa penari saya lihat kehilangan kendali. Mereka tampak mulai kesurupan. Gawat. Apakah saya akan kesurupan juga? Badan saya benar-benar panas karena kostum dan gerakan yang tiada henti. Saya merasakan suatu perasaan yang mulai agak aneh. Badan terasa enteng dan seperti diajak untuk terus mendengarkan gamelan dan terus bergerak. Inikah fase memasuki masa transisi yang oleh Andra disebut ”trans”? Apakah saya akan menyerahkan fisik saya untuk dimasuki oleh ”roh halus” yang wujudnya hanya pernah saya lihat di film horor? Keadaan yang kadang sulit dipahami rasional.
Saya menolak untuk konsentrasi. Saya berasumsi, apabila saya terus mendengarkan musik, saya akan ”kemasukan” dan lepas kendali. Badan sudah sungguh panas dan tabuhan gamelan semakin kencang. Saya terus menari di sudut arena, tidak berani ke tengah. Saya terus menari dan menerawang suasana yang agak mencekam bagi saya. Penari lain sudah ”edan”, ada yang ambruk, memanjat tenda bahkan ada yang lari ke luar arena. Semua penari (kecuali saya dan Bejo) sudah bertelanjang dada, berjingkrak-jingkrak dan seperti tidak sadarkan diri. Nafas saya tersengal-sengal karena energi tersedot oleh gerakan tari. Suasana yang mulanya teratur, mulai khaos. Gelas berisi air kembang kemudian ditaruh warga di tengah arena, entah untuk apa dan siapa. Namun, setiap penari yang mencoba mendekati gelas itu selalu dihalangi warga. Saya mengamati keadaan dengan terus melenggak-lenggok pantat seadanya. Seharusnya saya ”total” malam itu dengan cara konsentrasi pada musik dan membiarkan fisik diisi ”roh halus”, tapi saya tidak punya cukup keberanian.
Saya mundur ke belakang panggung. Penari lain masih ndadi.
Benar-benar malam yang fantastik-mistik.
~VII
Usai itu, di ”back stage” saya merebahkan diri di atas kursi. Penari lain satu per satu digotong warga dari tengah arena dan direbahkan di atas tikar. Mereka terkapar dan tampaknya masih kesurupan. Salah seorang penari yang tidak sadar dituntun ke meja berisi makanan (sesaji?) dan disuruh memilih apa yang dikehendaki. Menurut salah seorang warga, memilih sesaji itu agar “roh halus” lepas dari fisik penari. Di meja itu berdiri tegak sebatang lilin menyala.
Para penari perlahan-lahan sadar. Senyum tersungging dari bibir. Suasana hangat dan gojekan mencuat kembali. Wajah-wajah penari menakutkan tadi berubah kembali menjadi ramah. Malam fantastik-mistik itu meleleh, kembali seperti sedia kala.
Suatu malam yang sebenarnya riang.
~VIII
Pentas kesenian diakhiri dengan acara makan-makan bersama seluruh warga. Jam menunjukkan pukul 00.00. Saya makan tiga kali malam itu. Bukan karena rakus atau lapar, namun memang saya ikut acara makan bersama sebanyak tiga kali.
Saya tidak jadi pulang ke Salatiga pada malam hari, seperti rencana awal. Sudah terlalu larut. Apalagi kondisi ban motor saya yang menghawatirkan dan pertimbangan jalur transportasi. Kami disarankan untuk menginap saja di Gritingan. Kami akhirnya menginap di rumah Bagyo, pimpinan Sawung Gunung yang mengelola kesenian ini. Di satu tikar, kami tidur bersama-sama enam orang.
~IX
Saya tidak menyangka akan menari ”Buto Grasak”. Dan… entah kenapa, jiwa saya selalu bebas ketika berada di luar kota Salatiga. Jiwa yang menari bersama gairah.
Saya ingin terus menari, dengan kehidupan.