AKTIVITAS pagi di Lapangan Pancasila, Salatiga. Pilar tenda putih satu per satu ditegakkan para pedagang kaki lima. Warga Salatiga lain, berolahraga dengan cara masing-masing. Lari, jalan atau bersepeda.
Fajar Ardina Eka Yudha tunggu saya di depan Masjid Raya. Ia ngajak “nongkrong”. Nikmati pagi tenang sembari seruput kopi susu. Sekadar catatan, tak jarang muda-mudi Salatiga doyan “berkeliaran” di pagi hari. Cuci mata atau mejeng. Saya pribadi, ingin nikmati tenangnya pagi Salatiga.
Fajar adalah sahabat karib, sejak berseragam putih abu-abu.
Saya kerap curhat dengannya. Kami getol nongkrong. Namun, saat saya kuliah, kami jarang bersua.
Ponsel saya bergetar. Satria Anandita Nonoputra memanggil. Ia kawan saya yang juga pemimpin redaksi pers kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Scientiarum. Ia ingatkan acara di Semarang.
Oh, harus bergegas, bila ingin ikut. Alamak! Saya masih bercelana pendek. Belum mandi. Belum siapkan diri. Saya segera pamit pada Fajar.
“Sory banget” kata saya.
Ia mengiyakan, tanda tak apa. Raut wajahnya tak bisa saya baca. Saya tinggalkan seorang diri. Sebatang rokok menemaninya.
***
DI SEMARANG, ada sarasehan bertajuk “Hak-hak Masyrakat Terhadap Pendidikan”. Gawenya Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP). Bertempat di aula Harian Suara Merdeka.
Saya tak diundang di acara tersebut. Tapi saya ingin ikut. Saya utarakan keinginan tersebut pada Satria yang kebetulan diajak dosen fakultas ekonomi UKSW, Petrus Wijayanto.
Sedan berumur tak muda berkelir putih meminggir. Menjemput saya di Batas Kota di Jalan Diponegoro, Salatiga. Menuju Semarang. Tiga orang di dalam sedan. Petrus, Satria dan … Arief Budiman.
Arief Budiman? Ya, beliau seorang eksponen 1966 yang getol kritik pemerintah. Di masa mahasiswa, ikut demonstrasi kontra Bung Karno. Di rezim Soeharto, Arief terlibat berbagai protes hingga sempat cicipi hotel prodeo.
Ia ikut tandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu) bersama tokoh lain, seperti Goenawan Moehamad. Manikebu merupakan “tandingan” Lembaga Kebudayaan Rakyat- yang bertali dengan Partai Komunis Indonesia.
Arief mantan dosen di Program Pasca Sarjana, UKSW Salatiga. Ia dipecat “tidak terhormat” medio 1990-an karena bersebrang pendapat dengan banyak pihak pada suatu pemilihan rektor. Istrinya, Leila CH Budiman, mantan kolumnis rubrik psikologi di harian KompasMinggu.
Arief Budiman, sang legenda Satya Wacana? Mungkin, ya.
Di mobil beliau bercerita ihwal pemecatan tersebut. Setelah ditendang kampus, tak satupun perguruan tinggi di Indonesia yang mau sepenuh hati menerimanya sebagai staf pengajar. Meski cerdas, namun suka membangkang.
Bila perguruan tinggi terima Arief, bisa runyam. Maklum, Soeharto tak suka sama pembangkang.
Akhirnya, ia melamar gawe di luar negeri. Di Melbourne University, beliau diterima, sekaligus diangkat jadi Guru Besar dan Professor. Mantap.
Lulusan Harvard University, Cambridge, Massachusetts, AS, 1980 (Ph.D sosiologi) ini pernah luncurkan buku Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chili di bawah Allende (1987). Buku yang berinti dari disertasinya di Harvard.
“Bapak pernah ke Chile?” tanya saya.
“Belum.”
Tampaknya ia garap tulisan tentang Chile berdasar studi buku dan literatur, tak terjun langsung ke lapangan. Ia mengaku ke Amerika Latin “baru” sempat kunjungi Meksiko.
Amerika Latin, sepuluh tahun belakangan, sedang bertiup kencang angin segar “neososialisme”. Hugo Chavez, presiden Venezuela, salah seorang tokok kunci. Chavez getol nasionalisasi korporasi asing. Akhir Agustus 2008, Cemex, perusahaan semen yang dimiliki Meksiko, direbut Chavez.
Arief kemudian bercerita sekilas mengenai Allende, presiden Chili yang digulingkan oleh Augusto Pinochet. Jelas, padat dan singkat penjelasannya. Sebisa mungkin ia jawab pertanyaan yang terlontar dari saya, Petrus dan Satria.
Ramah sekali beliau. Cara berpakaian, pun tak sedikit cerminkan “tokoh terkenal”, yang biasanya berdandan perlente. Ia sederhana. Merakyat. Santai.
Inikah Arief Budiman yang kerap disebut-sebut banyak orang?
Saya kagum.
***
TERIK surya Semarang tak akur dengan saya. Huh. Ketika rombongan Salatiga datang, tampak antusiasme sambut Arief oleh orang-orang yang ada di sekitaran aula Suara Merdeka.
Sarasehannya, tak terlalu pikat hati saya. Pemateri ngoceh pendidikan. Saya tak dapat tangkap maksudnya. Saya yang terlalu goblok, mungkin.
Arief jadi pembicara terakhir. Ini dia, saat yang saya tunggu. “Konsep Pendidikan yang Ideal” topiknya.
“Merdeka!” pekik Arief, awali pembicaraan. Ujarnya, ia pekikkan kata itu karena “ikut-ikut” Darmanto Yatman, sahabatnya.
Pendidikan yang baik adalah dengan “cara bermain”. Menurut kakak kandung Soe Hoe Gie ini, sekolah harus dibikin menarik. Ia gunakan contoh model di Australia dan Amerika Serikat.
Sekolah menarik? Saya jadi ingat sewaktu sekolah di SD Iskandar Muda, Lhokseumawe, Aceh dan SLTP Islam Panglima Besar Jenderal Sudirman, Cijantung, Jakarta Timur. Saya suka sekolah.
Saat bangun pagi, hati berujar ”aha, hari ini sekolah”. Hati berseri. Gerak semangat. Meski mesti bangun pukul 04.30 dan tiba di rumah lagi pukul 17.00: saya rindu sekolah tiap harinya.
Di Aceh, sama. Sekolah juga kebahagiaan. Senang banget! Di Salatiga sekarang? Arghh….!
“Di Australia, gak sekolah itu nangis” ujar Arief.
Mengapa?
Karena sekolah kegiatan menarik. Ia paparkan contoh belajar ilmu hayat di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam, siswa diajak bersentuhan realitas terlebih dahulu. Disuruh cari hal yang menurut siswa “menarik”. Kebalikan dengan sekolah Indonesia pada umumnya.
Apa beda anak Indonesia dengan Amerika?
Menurut Arief, anak Indonesia jago hapalan. Lemah di logika dan penalaran. Di Amerika, penekanan lebih pada logika dan penalaran.
Di Amerika, sekolah pun terkesan “bebas”. Maksudnya, di dalam kelas, siswa tak terpaku duduk diam di bangku. Siswa boleh keliaran, pindah bangku dan seolah anti-disiplin.
“Kreativitas itu anti disiplin” ujar Arief.
Arief melepas guyonan. Suatu ketika, ada guru Indonesia lihat perilaku anak Amerika di kelas. Apa komentar?
“Kayak monyet!”
Hadirin sarasehan tertawa.
“Prinsipnya biarkan anak berpikir kreatif,” tambah Arief.
Hmm….
***
BICARA pendidikan, saya terngiang kuliah. Saya jadi ingat fakultas ekonomi UKSW, tempat saya “cari gelar”. Saya tak merasa kuliah adalah perkara menarik. Memuakkan, memaksa dan membosankan. Jujur, dua tahun kuliah, saya rasa kuliah hanyalah formalitas. Juga sia-sia.
Saya heran.
Saya bayar mahal kuliah. Tapi saya merasa tak dapat apa-apa. Saya bisa lebih dapatkan ilmu, dengan cara saya sendiri. Di luar kelas kuliah, tentu.
Saya tak serta merta salahkan institusi pendidikan dimana saya kuliah. Walau boleh, tapi sebenarnya sayalah yang harus instropeksi diri.
Jumat, 5 September 2008, saya nongkrong dengan Linceria Roseline Marbun dan Putri Purnamasari. Di bawah beringin tua di kampus. Mereka berdua mahasiswi di tempat kuliah sama dengan saya. Seorganisasi pula, E-Time.
Status asisten dosen, mereka sandang. Pintar? Jelas. Asisten dosen bukan orang bodoh, pastinya. Bila indikator ”pintar” adalah Indeks Prestasi Kumulatif, mereka di atas poin 3.
Putri se-SMA dengan saya. Ia rangking dua Ujian Nasional se-jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial di SMA 1 Salatiga. Lince, anaknya rajin nan ulet. Rambut mereka berdua panjang tergerai, jarang dikucir.
“Belajar yang efektif menurut kamu gimana?” tanya saya pada Putri.
Belajar, yang saya maksud terkait kelas kuliah. Saya punya masalah pola pikir dan paradigma terhadap kuliah. Saya tak mahfum: kuliah kok tak bikin saya pintar?
“Dengarkan dosen di kelas.” Kata Putri.
Ah, klise.
“Kamu nce?” tanya saya pada Lince.
Lince jelaskan saya tiga tahap ” cara belajar”.
“Sebelum kuliah, belajar dulu walaupun sedikit. Di kelas juga dengerin. Abis kuliah, materinya dipelajarin lagi. Flash back gitu yod”
Klise juga.
“Aku tuh kalo di dalam kelas, gak bisa nangkep apa yang dosen ngomong.”
“Semua mata kuliah yod?” tanya Lince.
“Iya”
Putri ikut bicara. Ia tanya, mengapa saya bila ikut pelatihan jurnalistik, saya bisa menyukainya?
Saya diam. Berpikir sesaat.
Iya juga ya.
Waktu ikut pelatihan nulis jurnalisme literair Persatuan Wartawan Indonesia-Reformasi di Puncak dan pelatihan nulis artikel Kompas di Semarang, kok saya bisa, mau dan punya semangat perhatikan pengajar ya?
Saya pasang hati, jiwa, raga, nafsu dan gairah terhadap mereka, kok bisa?
Di Puncak, saya seolah “tak sabar” tunggu tiap paparan Amarzan Loebis. Saya coba resapi dan nikmati. Saya pun antusias tanyakan apa yang tak saya pahami. Di Semarang, ucapan Tony D Widiastono, saya perhatikan baik-baik. Saya pun raih ilmu dari keduanya. Di kelas kuliah? Saya tak sabar ingin “cabut”. Boro-boro pemahaman, beté iya!
Kenapa?
Saya coba pikir kenapa. Putri dan Lince beri pancingan jawaban.
Karena saya tak tertarik nan suka dengan kuliah! Padahal saya bayar mahal kuliah! Pelatihan di Puncak dan Semarang, gratis wes ewes ewes. Kuliah mahal jadi perkara sia-sia bagi saya. Pelatihan gratisan, malah beri sejuta makna.
Saya tahu perihal ilmu ekonomi itu luas. Tapi tetap belum ciptakan daya pikat bagi saya. Apalagi suka nan cinta.
“Mencintai itu dari diri sendiri” kata Lince.
Saya harus rombak pola pikir, untuk bikin diri ini jatuh cinta terhadap kuliah.
Saya benar bahwa paradigma saya salah. Mungkin, saya harus serahkan diri pada jalang keadaan kuliah. Semoga bisa renggut cinta saya.
Atau, punya obat jatuh cinta wahai Sidang Pembaca?
Saya jadi berpikir, apapun konsepnya: “keinginan” (wants) maupun “kebutuhan” (needs), seyogyanya berlandas suka. Naksir. Kemudian, pedekate. Dan jatuh cinta. Lebih baik lagi bila cinta yang sejati. Wow!
Kuncinya: sukailah terlebih dahulu.
Bila tercapai, mungkin niscaya kuliah jadi amboi. Ya, mungkin saatnya saya coba menyukainya. Bisa tidak ya?
***
SAYA teringat saran Arief pada peserta sarasehan. Ia ambil dari ucapan Abdullah Gymnastiar, da’i kondang yang popularitasnya meredup akibat poligami.
Pertama, lakukan kebaikan bermula dari yang kecil. Kedua, awali diri sendiri. Ketiga, mulai hari ini.
Oh, indah nian sarannya. Terdengar klise. Namun, itulah syarat. Bila saya ingin perubahan, harus dilakoni benar-benar.
Sedan putih milik Petrus melaju ke arah Salatiga. Acara sudah selesai, tinggalkan toreh bayang-bayang di benak
Semoga jiwa dan pikiran saya lekas sembuh. Semoga saya bisa budiman di kehidupan, termasuk kuliah.
“Sampai ketemu lagi” kata Arief Budiman, ketika saya turun dari mobil di Batas Kota.
Iya Pak, semoga.
Hidup ternyata penuh jargon semoga.