SEMARANG memang menjengkelkan. Panas, sumpek dan… polisinya. Saya kena tilang sepeda motor, kali ketiga, di ibukota Jawa Tengah itu. Saya ke Semarang dalam rangka mengikuti pelatihan menulis artikel yang diselenggarakan harian Kompas.
Kamis, 21 Agustus 2008, saya dengan Yahama Mio memasuki Kota Semarang. Jalan raya cukup ramai, setidaknya dibanding Salatiga. Jalan Menteri Supeno No.30, kantor Kompas biro Jawa Tengah, tujuan utama saya.
Apes. Saya salah “ambil jalan”, malah lewat Jalan MT.Haryono alias harus menempuh jarak dua kali lipat. Saya pikun rute jalan di setiap kota.
Tak kencang laju kendaraan yang saya bawa. Coba nikmati perjalanan. Alon-alon asal kelakon. Setelah lewati Java Mall, saya berada di jalur kanan. Oh, ada lampu merah, saya harus ganti jalur kiri. Lurus jalan terus. Lampu merah sah ditabrak.
Belum lima menit ganti jalur, sepeda motor China berkelir putih-bitu pelan menghalangi saya. Tangannya menuding, tanda ”silahkan meminggir”. Seragamnya coklat khas. Bukan hansip atau satpam. Sialan, si polisi lalu lintas.
Saya punya waktu sepersekian detik, untuk loloskan diri. Pasalnya, motor Mio saya, tak takut dengan motor China polisi itu. Mainkan gas, betot, dan lari. Orang Jawa bilang, wani thok to ya!
Tapi tidak.
Saya (berusaha) tak ingin lari dari kesalahan, apalagi terkait hukum. Bukan sok idealis, tapi berusaha mentaati. Usaha merubah diri.
Saya menepi. Polisi itu membuka kaca helmnya. Membuka dialog. Membuka musibah bagi saya.
”Bisa perlihatkan SIM STNK-nya? Kamu melanggar marka,” kata polisi berkumis lebat.
Saya sadar, bila menyerahkan Surat Tanda Nomor Kendaraan dan Surat Ijin Mengemudi, berarti tamat sudah. Uang harus keluar dari dompet. Apes sejati.
Saya serahkan.
”Ikut ke pos,” tambahnya, tanpa sungging senyum.
Polisi itu berbalik arah, menuju pos. Melawan arus lalu lintas. Mungkin, agar lebih cepat. Ia tak memutar di U-Turn, tindakan yang seharusnya.
Di pos, saya tak banyak cakap, saat seorang polisi muda menuliskan surat tilang. Polisi tua yang menangkap saya memberikan urusan tulis menulis pada polisi muda. Ia bersantai bercengkrama dengan rekan polisi lainnya.
”Dulu pernah ditilang?”
”Pernah,” jawab saya.
”Sidang dimana?”
”Krapyak.”
”Berapa?”
”Dua puluh lima ribu.”
”Apa mau titip disini saja?”
“Saya sidang saja pak.”
Entah mengapa, saya belum bisa mempercayai polisi. Saya khawatir uang yang diberikan, tidak diserahkan kepada negara. Meski uang yang saya setor di pengadilan, belum tentu juga masuk kas negara. Lagu lama: korupsi.
Surat tilang diberikan. SIM ditahan. Sidang tanggal 28 Agustus 2008 di Pengadilan Negeri Krapyak. Sebelum tinggalkan pos polisi, saya bertanya pada mereka.
”Pak kalau jalan melanggar arus, itu salah gak pak?”
Polisi muda yang saya tanyakan, tak paham maksudnya.
”Begini pak, bla bla bla,” coba saya terangkan.
“Salah!” jawab polisi muda itu.
”Ooo salah ya pak.”
”Saya kayak gitu karena kamu salah!” bentak polisi tua, yang menangkap saya tadi. Tampaknya ia tersinggung. Lantas, emosi. Tak terima kata-kata saya. Ia sebagai polisi juga salah, sebagai penegak hukum yang tak hormat hukum. Namun, saya tak ingin berdebat lebih jauh. Saya tinggalkan pos.
Dada saya berdegup, coba tahan letup emosi. Ah, sudahlah. Ini juga kesalahan saya.
Dua hari sebelum kejadian, saya diberi uang oleh nenek saya sebesar Rp.25 ribu. ”Untuk beli makan di Semarang,” kata nenek. Saya tak jalankan amanat beliau. Saya belanjakan uang itu untuk rokok dan pulsa.
Mau dibenangmerahkan? Saya berarti korupsi dan tak jalankan amanat. Saya kena peringatan Tuhan, mungkin.
Pelajaran bagi saya: jangan korupsi dalam bentuk apapun dan jalankanlah amanat sekecil apapun.
***
PUKUL 09.15. Sejumlah sepeda motor terparkir rapi di halaman kantor Kompas. Kantornya tak besar, tampak depan seperti dua rumah yang dijadikan satu.
Saya peserta pelatihan yang datang pertama. Setelah mengisi buku tamu di pos satpam, saya masuk dan menunggu di ruang rapat. Ukuran ruangnya sedikit lebih kecil dibanding ruang rapat majalah mingguan Tempo di Jakarta.
Berbagai plakat (kenang-kenangan) dipajang di lemari. Dari berbagai instansi. Ada yang dari Fakultas Seni Pertunjukan di kampus saya hingga Himpunan Mahasiswa Islam.
Seorang pemuda masuk. Berjanggut tebal. Jaket coklat muda ia kenakan. Kami bersalaman dan berkenalan. Namanya Heni Purnomo. Ia mahasiswa angkatan 2003 Universitas Negeri Semarang.
Peserta lain kemudian satu per satu datang dan penuhi ruangan.
Alamak! Saya seorang diri yang kenakan kaos oblong, jins hitam yang lama tak dicuci dan sepatu Puma. Peserta lain kenakan hem, kaos berkerah, sepatu semacam pantovel atau kulit dan banyak yang kenakan celana model jatuh. Saya terlihat seperti ”anak tak tahu aturan”. Ha ha ha…
Saya melihat wajah mereka cerminkan ”orang-orang pintar”. Waduh! Tampaknya saya termuda di antara mereka. Saya angkatan 2006. Beberapa peserta yang saya tanyakan, menjawab mereka angkatan 2004, 2003, 2002, transferan bahkan sudah ada yang lulus. Pelatihan ini diikuti 20 peserta, saringan dari 115 pendaftar.
Saya semakin heran. Mengapa saya bisa berada di sana? Syarat pendaftaran pelatihan ini juga ditujukan bagi ”mahasiswa tingkat akhir atau sarjana”. Saya? Baru tahun kedua kuliah. Menulis juga jarang.
Seorang lelaki, rambutnya putih berbaju batik masuki ruangan. Namanya Tony D Widiastono, lelaki kelahiran Desa Warak, Sleman, Yogyakarta. Bapak dua anak, yang keduanya kuliah di Jerman. Tony adalah kepala desk opini Kompas. Ia ditemani Subur Tjahjono, redaksi Kompas Jawa Tengah.
Saya penasaran. Materi apa yang akan Kompas berikan kepada peserta. Lebih baguskah dengan pelatihan yang saya ikuti satu setengah bulan lalu di Cisarua, Bogor?
***
ACARA dibuka dengan menonton Company Profile harian Kompas di layar televisi. Isinya menceritakan sejarah dan masa kini. Diceritakan juga pemberedelan harian ”amanat hati nurani rakyat” di tahun 1970-an.
Materi dibuka dengan membahas ”isi koran”. Isi koran di pelatihan menulis? Ya, membahas opini, esai, feature, iklan, soft news dan hard news.
Tony memaparkan definisi opini:
Opini merupakan pergulatan pemikiran seseorang atas masalah atau isu atau topik yang sedang berkembang di masyarakat. Tentu saja persoalan yang dihadapi, disorot, ditelaah, dan dikupas berdasarkan keahliannya (amat diharapkan), atau dilandasi pendapat ahli lain yang diambil dari bahan bacaan (buku, jurnal, dan sebagainya)
Memang, tak mudah agar tulisan dimuat Kompas. Saya tujuh kali mengirim, tak dimuat. Yang ke delapan, baru lolos
. Sulit memang. Jangankan mahasiswa, tulisan pejabat atau ”pemikir” yang terkenal pernah ditolak.
”Tidak selalu tulisan pejabat diterima,” ujar Tony.
Ia lantas menyebut seorang pejabat yang belakangan hangat diterpa kasus aliran dana Bank Indonesia dan seorang pemikir yang menjadi dosen di sebuah sekolah filsafat.
Setiap harinya, sekitar 100 tulisan masuk ke e-mail Kompas. Waduh! Tentu, bukan hal yang mudah untuk menyeleksinya.
”Ada metode sendiri,” jelas Tony, mengenai cara menyeleksinya, tanpa menjelaskan lebih lanjut metode tersebut.
Harian Kompas menempatkan artikel sebagi asah intelektual (intellectual exercise). Bukan alat mencari ketenaran atau uang. Walau tanpa disadari, bagi mereka yang tulisannya berhasil masuk Kompas bukan tak mungkin namanya menjadi ”cling” dan menyabet honor tak sedikit.
Writing is thinking. It means, writing is intelectual activity. For making a good news. Write with your heart, edit woth your brain.
Selain menjelaskan bagaimana agar tulisan bisa dimuat di media, beliau juga banyak bercerita tentang wartawan. Misal, mengapa ia memilih profesi sebagai wartawan.
”Saya suka jadi wartawan.”
Baginya, profesi tersebut bisa mengantarkannya bertemu orang miskin hingga orang kaya.
Seorang wartawan juga belumlah tentu ”pintar” memotret. Ia sendiri mengakuinya, kendati ia selalu menenteng kamera saku. Seorang Jacob Oetama (pendiri dan pemimpin umum Kompas sekarang) sekalipun, juga tak pintar memotret.
”Pak Jakob suatu saat tugas ke luar negeri. Etok-etoknya tampil seperti wartawan. Bawa kamera ceklok.”
Jacob lupa masukkan film. Jacob lantas menelepon Jakarta dan menanyakan bagaimana caranya memasukkan film. Alamak!
Pelatihan hari itu ditutup makan siang bersama dengan lauk ayam goreng. Dalam hati saya masih bergumam, pelatihan dengan pembicara Amarzan Loebis di Cisarua, jauh lebih yahud. Tak apalah, saya anggap ini pengalaman berharga. Selain mendapat bingkisan dari Kompas, tentunya
.
Keesokan hari peserta diberi tugas menulis 350-400 kata. Menulis yang tak mendasarkan pada ”lamunan” belaka. Harus ada studi buku, riset atau referensi lainnya. Sabtu, 23 Agustus 2008, peserta berkumpul kembali untuk membahas tulisan yang dibuat.
Nah lho, saya nulis apa ya? Saya biasa menulis bukan karena disuruh, tapi karena keinginan.
Setelah makan siang, Tony pamit. Ibu dari karibnya, Ninok Leksono, sang redaktur senior Kompas, berpulang. Tony hendak melayat di pemakaman Bergota, Semarang.
***
SABTU, 23 Agustus 2008, Purnawan Andra seorang diri berada di depan ruang rapat. Ia sedang menelepon. Ia mahasiswa jurusan tari Institut Seni Indonesia, Surakarta. Rambutnya panjang, ikal, dikucir kuda. Ia kawan yang ramah.
Di hari pertama, setelah makan siang, saat saya duduk sendiri ia datang memecah lamunan saya. Ia hampiri saya, mengajak ngobrol dan bertukar nomor ponsel. Ia mengaku getol pemberdayaan seni di desa. ”Main ke desa” kesukaannya.
”Gak suka kota kota besar?”
”Saya ini dasarnya orang ndeso,” jawab Andra.
Saya merasa ia begitu low profile. Tak seperti saya, yang kadang kala sombong!
Andra, begitu ia akrab disapa, pernah juara tiga Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Tulisannya pernah dimuat Kompas Jawa Tengah berjudul Membangun Budaya Bangsa Melalui Film. Sehari sebelum tanggal 23 Agustus, tulisannya juga masuk di harian yang sama, berjudul Belajar dari Daendels.
Peserta lain satu per satu berdatangan. Pelatihan segera dimulai. Seorang peserta bernama Setia Kurnia Putri, sarjana Teknik Sipil Universitas Katolik Soegjapranata tak hadir. Tanpa keterangan. Jadilah peserta perempuan tinggal seorang, Sri Mas Sari, mahasiswi komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.
Tony membuka pelatihan dengan materi ”bahasa jurnalistik”. Tapi terasa biasa. Mengapa? Saya pernah membaca Bahasa Jurnalistik Indonesia yang ditulis oleh Goenawan Mohamad. Isinya jauh lebih komprehensif milik redaktur senior Tempo tersebut.
Singkat saja Tony menjelaskan bahasa jurnalistik. Dan memasuki sesi terakhir, yang saya sebut sebagai ”penghakiman tulisan”.
Saya menulis artikel bertajuk Belajar dari Amerika Latin. Saya tuliskan bagaimana pemimpin Indonesia seharusnya belajar dari kemenangan rakyat yang diterjemahkan melalui praksis neososialisme. Tulisan ini saya tulis sehari sebelumnya.
Tulisan semua peserta dikritik habis-habisan oleh Tony. Cara beliau mengkritik, mungkin tak semua orang bisa menerima. Cukup pedas. Hati-hati, salah terima bisa sakit hati.
Tak terkecuali saya. Tulisan saya dianggap penuh klaim. Seperti:
….Kekayaan tidak mengalir ke negeri sendiri, melainkan ke luar. Indonesia seolah hanya menyediakan buruh berupah rendah dan harta untuk dirampas. Tengok saja Exxon di Aceh atau tambang emas Tembagapura di Papua yang 81.2 persen sahamnya dikuasai oleh Freeport Mc Moran (Amerika Serikat).
Kekayaan alam itu, das sein digunakan untuk memakmurkan rakyat. Namun, das sollen berbicara sebaliknya. Kekayaan alam, meminjam istilah Antonio Gramsci, dihegemoni, serta “dijarah” habis-habisan oleh pihak asing….
Kata-kata ”dijarah habis-habisan” dianggap klaim sepihak oleh penulis. Tanpa dukungan fakta di dalamnya. Apanya yang dijarah? Di dalam hati saya bergumam, bukanlah banyak tulisan yang main klaim seperti itu?
Saya awalnya tak terima, tapi akhirnya berdamai dengan diri saya sendiri. Tony benar. Tulisan saya hanya berada di tataran permukaan, tak mendalam atau berkutat pada common sense belaka. Tulisan berkualitas bukanlah yang main klaim, tapi didukung kedalaman, konteks, referensi, data, memikat dan penalaran! Ini pelajaran berharga bagi saya, karena tak sedikit tulisan saya sebelumnya, tak memenuhi hal-hal seperti itu.
Saya juga dianggap main comot pemikiran orang.
Seperti Antonio Gramsci diatas dan Lenin dibawah ini:
Dampaknya jelas buruk bagi Indonesia. Benar ramalan Vladimir Ilich Lenin, imperialisme merupakan tahap lanjutan dari kapitalisme (Supratikno, 2008). Walau Indonesia sudah merdeka dari penjajahan Belanda, namun sekarang masih terbelenggu penjajahan gaya baru.
Saya dicecar pertanyaan mengenai Gramsci. Saat saya sedang merangkai kata-kata untuk menjawab, ia menyergah.
“Mas, jangan ngantuk. Cuci muka dulu sana’
Peserta lain tertawa. Ia lantas ambil menganalisis paragraf berikutnya. Saya belum sempat menjawab, sudah diserobot. Saya memang tak banyak memahami banyak tentang Gramsci, tapi bukan berarti tak tahu apa-apa. Memoar saya juga masih hangat. Karena seminggu sebelumnya, di seminar Menuju Indonesia Maju dan Mandiri di UKSW, saya mendapat pemahaman lagi tentang hegemoni Gramsci.
Sedangkan untuk ucapan Lenin, saya bukan sembarang comot. Saya setuju karena kapitalisme pada akhirnya lahirkan imperialisme. Saya mengutip dari tulisan Hendrawan Supratikno, sang guru besar fakultas ekonomi UKSW, di situs okezone.com berjudul Neososialisme vs Neoliberalisme.
Tapi saya tak sadar. Saya memang harus berpikir lebih dalam tentang satu kesatuan rangkaian tulisan. Bukan asal comot. Intinya, sebelum mengutip pendapat orang lain: pahami dulu sebaik-baiknya! Terima kasih Pak Tony!
Saya juga harus memikirkan ”pembaca”.
Solusinya, pemerintah harus berani mengambil praksis yang berpihak kepada rakyat sebelum terlambat. Nasionalisasi perusahaan asing adalah konkritnya. Sikap berani yang diambil presiden Venezuela, Hugo Chavez, dengan mengusung praksis neososialisme, bisa dijadikan contoh.
Saya ditanyai Tony: apa itu neososialisme?
Saya langsung jawab. Daripada dianggap ngantuk. Saya tak bodoh-bodoh amat. Saya jelaskan kepada beliau dan peserta pelatihan.
”Saya tahu. Tapi apa tukang parkir tahu apa itu nesosialisme?” ujar Tony.
Ia menilai gagasan saya bagus. Tapi ya itu, terlalu banyak klaim dan normatif. Normatif? Ya, saya jadi teringat ilmu ekonomi normatif dan positif. Ilmu ekonomi normatif menggambarkan fakta dan perilaku dan perekonomian. Ilmu ekonomi positif melibatkan ajaran etika dan pertimbangan nilai (Samuelson dan Nordhaus, 1995). Jadi, saya harus bisa bedakan itu.
Cara Tony memberondong pertanyaan kepada saya, memberi arti pada diri saya. Camkanlah, menulis artikel bukan sembarang main klaim, comot dan gaya-gayaan pakai bahasa asing. Pahami dulu itu semua, baru ditulis. Agar suatu ketika, bisa mempertanggungjawabkan tulisan tersebut.
Melakukan analisis, harus ada dasar. Dan bedakan dengan menulis esai.
Saya seperti diperingatkan. Mungkin juga peserta lain yang kebagian jatah ”dicerca”, satu per satu. Menulis tidaklah sembarang menulis. Yeah!
***
PELATIHAN ditutup dengan foto bersama di depan papan nama Kompas. Mengingatkan saya foto bersama di Poencer, walau di Semarang tak banyak tiupkan kenangan dan tanpa pemberian sertifikat.

Pelatihan ini memberi saya pelajaran: menulis harus hati-hati, analisis matang dan tidak sombong!
Sri Mas Sari, sudah tiga kali tulisannya dimuat di Kompas. Peserta lain, Hadziq Jauhary, mahasiswa manajemen FE Undip bahkan sudah tujuh jali. Saya? Baru satu kali.
Saya bertemu banyak orang hebat.
Mungkin di Satya Wacana, hanya artikel bikinan saya yang sering lolos di media massa. Kadangkala saya merasa sombong. Saya tidak egaliter dalam hal memandang sesama mahasiswa lain di kampus berkaitan hal tulis menulis di media massa.
Tidak boleh.
Diatas langit masih ada langit. Di luar Satya Wacana, banyak orang hebat. Tak boleh berpuas diri apalagi sombong. Mungkin saya harus bersikap seperti orang bodoh, tak tahu apa-apa dan apatis. Daripada banyak cakap tentang teori ini itu, tapi mengarah ke kesombongan. Atau lebih tepatnya, ”pintar menempatkan diri”.
Klise, tapi saya harus menjaga sikap rendah diri, asosial dan ”gila”. Asosial dan gila? Hanya saya tahu apa maksudnya, bagi saya.
Ya, itu sudah.
aku bukan juga seperti yang kau gambarkan di kalimat atas tadi. dan toh, kita pun mengalami hal yang sama: pembantaian tulisan.. hehe. gut lak 4 u and c u soon
sombong perlu lah.. setidak2nya sombong pada diri sendiri..
at least 4 me.. hehehehehe.. ketika lagi down dan ga da orang yang memuji, ya harus memuji n membesarkan hai sendiri.. carane? ya sombong ama diri sendiri.. hueheheheheh.. maklum, kan gw narsis yod..
eh iya soal tilang baca ini deh.. different approach, different result …
http://binsar.berteologi.net/?cat=12
yodie, aku tergoda tuk ngomentari tulisanmu di FHK SM. tapi, meski aku tidak sependapat, bukan terus kamu salah lho. semua tentang pengembangan diri tidak ada yang salah, tetapi karena kita mugkin harus blajar lbh giat lagi, aku pun juga begitu ko’.. tetep semangat nulis ya.. good luck 4 u, yod.