SORE tua di Salatiga. Angin hangat menggoyang daun-daun pepohonan depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sang surya bergegas pamit pulang, beristirahat untuk hadir kembali esok.
Senja itu, saya dan dua kawan; Satria Anandita Nonoputra dan Teddy Delano hendak berangkat, menuju Literary Journalism Workshop di Cisarua, Bogor.
Moda transportasi travel yang kami pilih. Ongkos, Rp.165 ribu per orang.
Niat awal naik kereta api (KA), terpaksa urung. Sedang musim liburan sekolah. Tiket kelas eksekutif habis.
Eksekutif? Bukan gaya, apalagi sok mahasiswa perlente. Ingin naik KA eksekutif karena biaya pelatihan (transportasi pulang pergi, hotel, perut) ditanggung sponsor, BNI 46. Logikanya, ada yang enak nan halal, tentu boleh dipilih.
Syarat ikut pelatihan, mengirim tulisan 2000 kata. Namun, diprotes banyak pihak.Terlalu ”sadis”. Turun menjadi 500 kata. Tulisan dikirim via e-mail dan harap-harap cemas diterima.
Saya, Teddy dan Satria, diterima. Hore.
Keberangkatan dimulai, menuju kantor Persatuan Wartawan Indonesia-Reformasi (PWI-R), di Gedung Manggala Bhakti, Jakarta. Rencananya, berkumpul dahulu dengan panitia dan para peserta, baru berangkat bersama ke Cisarua.
***
TRAVEL hijau muda mengangkut kami. Penampilan tak mencerminkan stamina. Bodi oke, nafas tua. Daya lari tak segalak bus malam Antar Kota Antar Propinsi (AKAP). Suara mesin boleh diadu dengan Metro Mini di Jakarta.
Jumat, 04 Juli 2008, pukul enam, pagi Cikampek menjemput. Matahari kemerahan malu-malu mengintip. Kami sudah akan sampai Jakarta, kota yang pernah sangat saya benci. Keluar dari Aceh akibat konflik bersenjata, saya menetap dua setengah tahun di pinggiran ibukota Indonesia itu.
Selesai mengantar penumpang kesana-kemari, kami diturunkan supir travel di pelataran parkir Stasiun Gambir. Sejenak kami rehat di Monumen Nasional (Monas). Monumen tinggi itu seolah ingin menggapai langit. Emas di puncak monumen mengejek saya yang tak sanggup menyentuhnya.
Pukul 09.30, rombongan Salatiga ditraktir sarapan oleh seorang alumnus Satya Wacana yang bekerja di suatu instansi pemerintahan. Disediakan pula tempat mandi dan istirahat relaksasi tubuh, setelah lebih dari 10 jam kami duduk di bangku travel.
Pukul 13.00, menuju kantor PWI-R.
Taksi biru melaju cepat, melenggang mulus di aspal ibukota. Setiap sudut jalan dijejali kendaraan bermotor yang tak capai memadati. Asap knalpot tersedia berlimpah untuk dihirup. Gedung pencakar langit angkuh berdiri menghadap jalan. Seolah bangunan-bangunan beton itu gagah mengajak.
”Ayo nikmati Jakarta. Carilah pekerjaan disini. Setumpuk uang menunggumu. Gadis cantik kan menjadi sekretarismu. Jangan cari surga di akhirat, disini ada kok!”
Sampai di Gedung Manggala Bhakti. Megah dan luas. Lebih megah dari hotel nomor wahid di Salatiga, sekalipun. Departemen Kehutanan disini juga ternyata markasnya.
Cukup tanya kesana kemari, sampailah pada tujuan. Perempuan setengah baya berkawat gigi menyambut di lobi.
Rambut panjang diikat, berpadu setelan batik modern. Perawakannya ”cukup”. Cukup menggoda. Senyum di bibir delima mengembang otomatis. Wajah yang dilapisi bedak, tak berhasil menutup kumpulan bintik jerawat di pipi. Paras, tetap menarik. Ya ya ya, perempuan metropolitan.
”Selamat siang,” sapanya, ramah.
”Saya peserta pelatihan,”
”Oh, silahkan. Ini siapa ya?”
Saya lantas menyebut nama-nama dari Salatiga.
”Diisi dulu ya,” seraya menyerahkan dua lembar kertas isian.
Usut punya usut, namanya Nandami Mahargina. Jabatan, organizing committee. Kerap menelepon saya dan peserta lain. Konfirmasi teknis acara dan penjelasan mengenai pelatihan, diampunya. Ia ”seksi sibuk”. Hmm… tapi, Nanda memang seksi, sebagai perempuan. Uhuk!
Di kantor ini, kami berkenalan dengan Narliswandi Pilliang, penggagas pelatihan gratisan ini. Entah asal muasalnya, nama ”Narliswandi” jarang dipakai ketimbang nama ”Iwan”. Namanya lebih sering tertulis: Iwan Piliang.
Miskin rambut dan pembawaan santai. Mantan jurnalis SWA. Ia ketua umum PWI-R dan anchor serta reporter PressTalk. Ia juga pernah menjadi staf pemasaran majalah kajian media dan jurnalisme, PANTAU.
Saat saya menulis tulisan ini, Iwan Piliang sedang ”ada masalah” dengan Alvin Lie, anggota dewan dari Partai Amanat Nasional (PAN). Terkait tulisan Iwan di Tajuk Rakyat media online PressTalk, berjudul Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto (18/07).
Semoga masalahnya segera usai.
***
MATAHARI belum lenyap, sore belum habis. Minibus yang mengangkut kami tiba di Hotel Poencer, Jalan Raya Puncak Km.77, Cisarua, Bogor. Penginapan yang tak jelek. Batin saya mengatakan, dua hari ke depan, kenikmatan akan saya reguk di hotel ini. Saya sangat membutuhkan refreshing, disamping ilmu.
Jiwa saya sedang tak sehat kala itu.
Saya bersua peserta lain. Belasan, tapi tak seorang wanitapun yang tangannya saya jabat. Melihat pun tidak. Mungkin langsung masuk kamar, membuka buku diary atau notebook dan menulis. Maklum, pelatihan ini diikuti oleh orang yang gila menulis. Kecuali saya, mungkin.
Saya sekamar dengan Supriatna, seorang dedengkot radio komunitas PASS FM dari Kota Kembang, Bandung. Akrab dipanggil Kang Pri. Orangnya menyenangkan, luwes dan akrab. Postur tubuh, mengiangkan saya kepada Jaya Suprana, pengusaha-cum-penggagas Museum Rekor Indonesia. Bulat lucu menggemaskan.
Satria dan Teddy kelihatannya juga sedang beramahtamah teman sekamar.
Satria dengan Kristiono, mahasiswa asal Lampung yang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Teddy dengan Suhalik, awak radio Madufm Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur.
Pelatihan ini ditujukan bagi media alternatif, blogger dan pers kampus. Walau mayoritas peserta adalah mahasiswa, tapi acara ini makin berwarna hadirnya mereka yang tak lagi menjadi mahasiswa.
Umur tak penting, dibanding karya.
***
ACARA didahulukan makan malam. Sorot lampu kuning menyinari restoran Poencer. Deretan pilihan makanan agak berkelas, mangga disantap. Sesi ramah tamah dan remeh temeh, serta saling kenalan sesama peserta. Restoran riuh.
Asap rokok hembus lambat dari mulut Nanda. Biasa, selesai makan, rokok disulut sebagai ritual penambah kepuasan hidup. Meja makan Nanda ada di seberang saya, tak salah sesekali saya memandangi Nanda -yang terjebak nikmat- mengkonsumsi tembakau olahan, berfilter putih.
Saya tertarik memperhatikan wanita perokok, seolah-olah beban hidup mereka dilarikan oleh asap rokok.. Selain eye catching, tentunya. Awas batuk! Uhuk!
Peserta perempuan batang hidungnya mulai tampak malam ini, mengisi meja-meja kosong. Sebagian besar berkerudung, meromankan kenangan Aceh, dimana sahabat saya banyak yang berkerudung. Damai melihat wanita muslimah seperti mereka. Subhanallah. Menyirami kegersangan hati saya, yang terjebak pragmatisme agama. Di kampus, teman saya yang berkerudung mudah dihitung.
Seorang perempuan, dengan rokok dijepitkan di sela jari, mencuri perhatian saya. Ia tak cantik, tapi memiliki daya tarik. Buktinya, saya tertarik memandangnya.
Lho, bagaimana Nanda? Sudah cukup ach.
Perempuan yang ’baru’ ini bersandang coklat krem, lengan panjang, tali putih penggantung kartu identitas pelatihan terkalung di leher. Rambut panjang sepunggung digulung, membentuk gumpal sarang burung di belakang tempurung kepala. Ditusuk dengan tusuk rambut serupa sumpit, khas wanita kerajaan di kisah Cina tradisional. Sunggingan senyum yang ia lontarkan terhadap lawan bicaranya, menyita hati untuk bertanya.
Siapa dia?
***
SESI malam pertama di Poencer adalah menonton film bertema jurnalisme. Didahulukan perkenalan panitia dan peserta, satu per satu. Cara perkenalan tak hanya menyebut nama, asal media dan selesai. Tapi bertutur. Mungkin dipadankan tema pelatihan ini, menulis bertutur (literair).
Perut saya terkocok kala beberapa peserta memperkenalkan diri.
Suasana hangat terbangun. Menggembirakan. Mereka lucu-lucu, dipadu gaya bercerita polos dan lepas. Tapi ada juga yang ”galak”, saat menceritakan kisah hidup.
Namanya Abdul Malik, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri SMH, Banten. Ujarnya, ia pernah berurusan dengan pihak rektorat terkait tulisannya. ”Boleh juga ni orang,” pikir saya. Tulisannya mampu menggoyang pimpinan kampus.
Tambahnya, ia pernah dimarahi, akibat membaca dan mendiskusikan Manifesto Komunis (Das Manifest der Kommunistischen Partei) -merujuk pada buah pikiran Karl Marx dan Friedrich Engels perihal ”penghisapan” proletar oleh kapitalis-.
Oh, apakah Abdul, kiri? Entahlah.
Kemudian ada Windi Al-Zahra. Mahasiswi Institut Pertanian Bogor, reporter Koran Kampus IPB. Ia benar-benar sosok lucu. Bikin saya terbahak. Kisahnya, ia mahasiswi fakultas peternakan yang tercebur di dunia jurnalistik. Fakultas yang minim kaitan jurnalistik. Hi hi hi! Tampaknya, ia supel.
Ups, perempuan yang mencuri perhatian saya di restoran, tiba gilirannya. Ia beranjak dari kursi. Posturnya tak terlalu tinggi, sebahu saya. Tangan kecilnya menggenggam microphone, siap kenalkan diri. Saya terpaku sejenak, menunggunya menyebut nama.
Nama yang cantik terucap dari bibir tipisnya: Rika Febriyani.
Saya lantas membuka buku panduan pemberian panitia yang ada data dan tulisan peserta. Ia mahasiswi Filsafat Islam Islamic College for Advance Studies (ICAS), Jakarta. ICAS merupakan perguruan tinggi yang awalnya didirikan di London, Inggris. Cabang Indonesia, berdiri medio 2002.
Tulisan Rika berjudul ”Komunitas Tertutup, Perpustakaan Nyi Ageng Serang”.
Ha ha ha, kebetulan, saya juga menulis tentang perpustakaan. Judulnya, ”(Dulu) Terbesar dan Terbaik Se-Asia Tenggara”. Mengenai perpustakaan di kampus saya. Awas batuk! Uhuk!
Rika. Saya penasaran. Seperti apa pribadinya?
***
DARI ufuk Timur, geliat matahari perlahan tampakkan wujud. Dingin udara dataran tinggi membuat seakan di Salatiga. Pagi hotel masih sepi, mencetak sejarah akan riuh malam. Siulan burung menadakan indah pagi. Membuka gairah saya, hadapi pelatihan
Amarzan Loebis, pembicara utama pelatihan ini. Era 1960-an, Amarzan tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang kerap dikaitkan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI adalah partai yang tak disukai rezim Soeharto. Pulau Buru, tempat pembuangan orang-orang yang di cap komunis, sempat (dipaksa) Amarzan cicipi. Kini, ia menjabat redaktur senior TEMPO..
”Sudah tua,” batinku.
Ia tak semuda Iwan Pilliang. Dari tampang, tak mungkin orang bilang ia seumuran Anjasmara. Senior coy! Gairah makin terpacu, tak sabar mendapat wejangan ilmu seorang senior.
Perkenalan peserta kemarin malam belum usai. Dilanjutkan esok paginya. Maklum, total 34 peserta. Perkenalan seorang peserta, minimal makan waktu sekitar lima menit. Bila diteruskan, acara bisa berakhir tengah malam. Saya kebagian jatah di esok paginya.
Suasana hangat terbangun mesra di pagi hari. Cocok membangun mood belajar dan diskusi. Mayoritas peserta mengenakan kaos berkelir putih pemberian panitia.
Amarzan buka pelatihan dengan tanya, “untuk apa menulis?”
Ragam jawab peserta terlontar. Tak ada yang salah, kata Amarzan. Orang bebas berpendapat. Tapi pembicara yang juga miskin rambut ini, punya pendapat sendiri.
Ada tiga, yaitu, to transfer meaning, to share experience dan to interprate reality.
Saya tergelitik. Teringat tujuan menulis saya: bersenang-senang. Saat kesepian, sedih atau tertekan, maka saya akan menulis. Hanya sesaat. Semacam penggunaan zat adiktif saat sakaw. Apa mau dikata, begitu adanya.
Amarzan lanjut dengan spektrum tulisan. Dimulai dari terkerucut, hard news-soft news-feature-kolom/esai-prosa/sastra. Hard news menjadi santapan koran harian. Soft news dapat berupa pengembangan dari berita koran lain. Soft news adalah santapan mingguan macam TEMPO.
Beralih terhadap struktur dan bahasa. Bagi Amarzan, sikap kebahasaan yang dipakai TEMPO mengacu pada “bahasa yang hidup”. Dapat ditafsirkan sebagai ketidaksertamertaan berkiblat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
“Bahasa lahir dari kesepakatan,” ujar pembicara yang datang ke Poencer mengendarai Chevrolet Aveo biru.
Bicara kesepakatan, Amarzan berkisah. Suatu ketika, TEMPO hendak memberitakan penyanyi Rhoma Irama. Bingung menjerat. Jenis musik apa yang dibawakan oleh Rhoma? Bukan Melayu, apalagi keroncong. Apa ya?
Terngiang dentum nada musik yang “dang dut, dang dut”. Ide muncul mendadak. Jadilah: genre musik dangdut.
Ya, dangdut yang kerap kita lihat di jagat media. Mulai dari musik yang dianggap kampungan, penyanyi wanita aduhai dan sejuta gosip tentangnya. Penyanyinya tak sedikit yang berbusana menggoda. Maria Eva, penyanyi dangdut, pernah terlibat skandal video porno dengan anggota dewan dari Fraksi Golkar.
Kata dangdut disepakati dalam komunitas TEMPO, kemudian Indonesia bahkan dunia. Klaim Amarzan, kosakata “dangdut” (serta “aduhai”) adalah ciptaan TEMPO.
Di sela-sela sesi, ia menyelingi, bila dalam menulis menggunakan bagian kalimat “di samping itu”, “di lain sisi” adalah kesia-siaan. Waduh! Saya sering menggunakan! Kadang, kata-kata itu dipakai penulis pemula menyambung antar kalimat, sebagai “lem”. Merekatkan. Oke, pak!
Ia menganggap kata meninggal dunia itu salah.
“Lho?” saya heran. Di banyak media massa, kata itu tak jarang dipakai. Saya pun kadang memakainya. Sebagai jawaban, Amarzan melempar logika, “emangnya ada yang meninggal akhirat?”
Boleh dikata, Amarzan Loebis itu kocak. banget! Tampang galak, seram dan sadis, sirna seketika kala ia mengeluarkan canda, spontanitas dari mulutnya. Saya terhibur.
Anak bangsa, juga salah.
“Lho?” heran saya lagi. Yang benar adalah rakyat. Ia menjelaskan dengan nada bicara memancing tawa. Ha ha ha…
Ia lantas menerangkan, bahwa bahasa tidaklah netral. Tapi politis. Ada benarnya. Saya teringat bahasa Orba, macam penertiban. Alamak! Seharusnya, penggusuran. Sama hal penculikan, penangkapan, sporadis dijelmakan menjadi pengamanan.
Bahasa Orba, bahasa pelanggengan kuasa. Begitu?
Pelatihan sempat diisi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Saya sama sekali tak tertarik. Membuat kantuk. Menjemukan. Bosan. Lebih seru dan bermanfaat Amarzan Loebis. Tapi, saya bertahan dalam ruangan, menghormati pembicara dan panitia. Beberapa peserta ngeloyor. Coffe break lebih awal.
***
STRUKTUR tulisan, para jurnalis mengenalnya “piramida terbalik”. Artinya, susunan informasi terpenting melebar ke tak penting. Amarzan meledek, mengapa tak dinamai “struktur bikini”? He he he…
Di TEMPO, kerap menggunakan stuktur tulisan “joglo”.
Amarzan menggambarkan di papan tulis, struktur tulisan serupa joglo, rumah adat Jawa. Atap, adalah lead. Bawah atap, ada bridge (jembatan) -penghubung lead dengan body (isi)-. Setelah body, ada conclusion (kesimpulan), lantas diakhiri ending (penutup).
Lead pengawal tulisan, banyak macam.
Seperti summary lead (ringkasan informasi). Ujar Amarzan, summary lead jarang dipakai karena paling berbahaya. Karena ringkasan penulis kerap salah tafsir. Descriptive lead (penggambaran), narrative lead (bercerita), quotation lead (kutipan), question lead (pertanyaan), lead menggoda, freak lead dan combination lead (gabungan dari berbagai lead yang ada).
Sedangkan ada “mazhab” lain perihal lead. Yang terdiri gabungan what (apa), when (kapan), who (siapa), where (dimana), what (apa), who (siapa) dan how (bagaimana). Biasa disingkat, 5W 1H.
Amarzan mewanti-wanti penggunaan question lead.
Contoh: “Masih ingatkah Tamara Blezinsky?”
“Lha, emang kalo gak ingat kenapa?” jawab Amarzan terhadap contoh question lead yang ia bikin sendiri itu, memposisikan diri pembaca.
Bisa saja, pembaca meninggalkan tulisan kita. Jadi, kita harus imagine the reader.
Membayangkan, bagaimana pembaca menilai tulisan kita.
TEMPO punya aliran sendiri terkait struktur. Alinea pertama, biasanya tak lebih empat kalimat, dan 12 kata. Ada baiknya, quotation (kutipan) narasumber maksimal paragrap empat.
Hati-hati memilih narasumber! Ada lima kategori narasumber. Pertama, yang mengalami. Waspada, kadang hiperbolistik, karena yang mengalami kadang melebih-lebihkan kronologis.
Kedua, yang melihat. Misal, saksi mata tabrakan di rel KA. Narasumber saksi mata lebih baik daripada kepala kepolisian yang duduk di belakang meja menunggu laporan bawahannya.
Ketiga, banyak tahu. Misal, seseorang dimutilasi di daerah Jombang. Tanyalah, pada tetangga sekitarnya atau sanak saudara.
Keempat, yang berwenang. Data jumlah penduduk, tanya pada Badan Pusat Statistik, bukan pada dukun.
Kelima, pakar. Saat membuat berita tentang seks bebas di kalangan siswa sekolah, tanyalah pada sosiolog bukan ahli kimia.
Amarzan menyarankan, dalam membuat berita, perbanyak pemakaian kata dasar. Juga memperhitungkan panjang-pendek kalimat. Contoh:
“Tukang buah itu dipukuli polisi. Mati.”
Suasana mencekam dibangun. Hi..seram!
TEMPO juga menciptakan taicing. Berasal dari eye catching. Berlokasi antara judul dan lead. Seperti pada tulisan Amarzan, Membrahmana di Jalur Sulinggih (TEMPO, 6 Juli 2008), taicingnya:
Bali menyaksikan pelurusan kasta melalui pemahaman Hindu. Semua orang lahir sebagai Sudra.
Fungsinya, apa ya? Aduh, saya lupa. Mungkin pemanis tulisan, dan “pembuka”: sedikit simpul judul, untuk membuka simpul berikutnya dalam tulisan dan menjadi kesimpulan.
Berita seyogyanya mengandung qualities of news. Akurat, berimbang (adil itu sulit, tapi berusalah), obyektif, lengkap, rinci, jelas, jenis, aktual.
Sedangkan tulisan human interest (kisah manusia yang menarik dibaca manusia lainnya), yang populer berkisar kekayaan, kesehatan, kriminal, misteri, bencana dan seks serta kecantikan.
Amarzan sering memotivasi psikologis peserta pelatihan. Mungkin ia tahu, jiwa penulis pemula seperti kami kerap labil dan mendewakan ego. Ia guru yang baik. Sungguh.
“Menulis, jangan mulai dari teori,” ujarnya.
Ia menambahkan, tiada karya yang bisa jadi dalam sekali tulis. Mustahil. Melewati berjuta proses dan tahap. Tiada produk jurnalistik sempurna, produk Amarzan Loebis sekalipun.
Untuk itu, “jadilah diri sendiri” saat menulis. Gaya boleh dipengaruhi, tapi tak serta merta menginginkan sama persis, plek! Tiap penulis, punya kekhasan masing-masing.
Menulis harus dengan “bermain”, dilandasi gembira. Tanggalkan beban. Untuk hal ini, saya agak bingung. Saya menulis, kala sedih. Saat gembira hati melambai di kejauhan.
***
PERUT keroncongan bernyanyi, tanda lapar. Waktunya makan siang. Seusai menuaikan sholat Dzuhur, saya bergegas ke restoran. Sebuah pemandangan memikat saya.
Satria, semeja dengan Rika. Meja tersebut dikelilingi empat kursi, dua diantaranya kosong. Siap diisi, oleh saya tentunya.
“Kesempatan nih,” batin saya sembari terkekeh. Suatu kesempatan mengenal Rika.
Saya terburu-buru mengambil nasi dan lauk pauk, agar kursi tak bertuan itu tak diraih orang lain.
“Gabung yak,” basa basi saya terhadap Rika.
Satria masih tenang melanjutkan makan siangnya. Saat hendak menaruh piring di meja bagian kiri (Rika ada di kanan), ada mangkuk bekas sup. Cekatan, Rika mengangkat mangkuk, menyingkirkan dari tempat semula. Sigap mempersilahkan saya bergabung makan siang.
“Terima kasih,” ucap saya.
Teddy Delano ikut bergabung di meja itu. Berarti kini, Rika, seorang perempuan, sendiri dikepung para lelaki dari Salatiga.
Piring saya letakkan di atas meja. Kursi saya geret ke belakang. Duduk. Pandang mata ke piring, siap santap.
Sendok pertama masuk ke mulut. Dikunyah, agak sok pelan.
“Mbak dari mana?” tanya saya tanpa memandang utuh wajah Rika, hanya sekilas, pandangan kembali ke piring. Mulut masih setengah menguyah. Mencoba bersikap santai.
“Jakarta.”
“Kuliah dimana?” tanya saya, sok bloon, sok tak paham. Jelas-jelas saya sudah mengetahui ia kuliah dimana.
“ICAS.” sebutnya dengan dialek Inggris.
“Dimana tuh?”
“Pondok Indah.”
“Ooh. Dulu waktu aku masih SMP, temen-temenku sering banget maen ke PIM (Pondok Indah Mall).”
“Ooh. O iya, kamu kan dulu pernah tinggal di Jakarta ya.” timpal Rika.
“Iya.” angguk saya.
Tadi, sebelum sesi Amarzan, pada sesi perkenalan, secuil kisah hidup “nomaden”, saya ceritakan, berawal dari Aceh, Bogor, Jakarta hingga terdampar di Salatiga. Ternyata, Rika masih ingat perkenalan saya di depan kelas. Hmm…, namun ego “GR” (gede rasa) saya tak muncul. Uhuk!
Nasi di piring belum habis. Menyisakan butir-butir nasi dan lauk yang tinggal menunggu waktu huni perut. Mulut tak bisa henti bicara.
“Angkatan berapa?”
“Dua ribu enam,” jawab Rika.
“Ah masak sih? Angkatan umur?”
“iya, dua ribu enam.”
“Lha setelah kepindahanmu sekarang, kamu sudah menemukan yang kamu cari?” tanya Satria, bergabung polos ke dalam obrolan saya bersama Rika.
Rika hening sesaat. Begitu pula saya. Ternyata, ia mahasiswa pindahan. Bila benar adanya, tak mungkin ia angkatan 2006. Pastinya, ia sudah mahasiswa sebelum 2006.
Saya merasa sedikit tolol sempat dikibuli seorang perempuan.
Ternyata Satria sudah tahu, bahwa Rika tak berumur 20, seyogyanya mahasiswa angkatan 2006. Satria yang berpostur macam tentara itu, tahu pula Rika mahasiswa pindahan. Mungkin mereka telah berbincang sebelumnya.
“Lha sebelumnya dimana mbak?.
“ITI,” jawabnya, merujuk Institut Teknik Industri, Serpong.
“Angkatan berapa sebenarnya?” tanya saya, yang telah mual menahan rasa penasaran.
Rika menjawab santai, “sembilan delapan”
BLARRR!!!
Seketika, sekilat petir menyambar siang terik! Mematahkan segala genggaman asumsi saya: umur Rika mungkin paling tua 24. Itu adalah asumsi, menunjuk ke angkatan 2002. Bila angkatan 1998, silahkan hitung sendiri, berapa Rika punya umur. Glek, ya ampun. Selisih delapan tahun dengan saya.
Menilik tampang, saya bisa menganugerahinya “awet muda Award”. Tak mencerminkan mahasiswa tua.
Teddy tanpa dikomando mengiyakan, bahwa ia juga seumuran Rika. Seakan bertemu teman lama, dalam satu meja kini muncul obrolan-obrolan santai, lebih terbuka, sembari menikmati isitirahat siang. Waduh, saya masih angkatan 2006!
Asap rokok masih tersembur dari mulut Rika, menyelinap di sela bibir tipisnya Rambutnya, seperti biasa, menggumpal ditusuk sumpit rambut, dan menjulurkan belalai pendek. Ia menarik pelatuk pembicaraan yang lebih dalam, soal tulisan saya.
“Eh itu bener, perpustakaannya gak diminatin?”
“He’eh.”
“Di Jakarta sulit nyari tempat baca yang enak.”
“Makanya ke Salatiga aja.”
Tak terhitung promosi ini meluncur pada tiap orang yang bertanya akan kota kecil di Tenggara Semarang itu. Padahal saya tahu, suatu saat, saya akan kembali membenci Salatiga, seperti dahulu kala, ketika tahun-tahun awal menginjakkan kaki disana.
“Eh Salatiga tu gimana sih, ceritain donk,” minta Rika, sedikit manja.
Mengalirlah sepotong cerita tentang kota mini itu dari mulut saya. Mulai dari hawa sejuk, sampai julukan “Indonesia Mini” yang melekat di kampus yang ada di sana. Maklum, tiap daerah dari seantero negeri mempunyai wakilnya di UKSW.
Didik L. Pambudi, seorang panitia berkaus PANTAU, melempar sinyal. Sesi berikut, reportase, akan dimulai. Diperingatkan agar berkumpul di ruang sesi, untuk mendapatkan “pengantar”. Rokok yang terbakar setengah, terpaksa tak saya nikmati sembari duduk semeja dengan Rika.
Rika. Siang itu singkat sekali perbincangan kita. Tak sempat saya bertanya lebih jauh. Entah mengapa, saya kerap terjebak penasaran dengan pribadi orang nyeleneh. Menurut saya, Rika cukup nyeleneh. Penampilannya, semua orang bakal sepakat, ia tak segegap gempita perempuan di era modernisme saat ini. Ia suka filsafat (saya simpulkan dari fakultas yang ia ambil, pasca keluar dari fakultas teknik). Nyeleneh, karena kawan-kawan perempuan saya di kampus, yang berbincang filsafat, tak ditemukan dibanding bicara perkara orientasi kekinian.
Bukan jatuh cinta pada Rika. Bukan.
Saya ingin belajar, dari mereka, termasuk Rika: tentang hidup. Belajar bagaimana mereka maknai hidup. Saya meyakini, hidup orang-orang yang saya sebut “nyeleneh” mengandung sejuta pelajaran, untuk dilahap sebagai pemahaman hidup saya. Mereka, saya kira, hidup penuh pergolakan batin dan mungkin tersedia hikmah. Itu, yang coba digali, untuk menjawab pertanyaan yang tak bisa saya jawab hingga detik ini.
Untuk apa hidup ini?
***
POENCER, siang itu dikunjungi dua mobil berpelat B. Isinya, keluarga muda. Dua bocah turun dari mobil, riang gembira bersorak tiba di hotel. Si pembantu, dengan wajah polos mengangkut bawaan majikannya itu.
Mei 2008, Radar Bogor memberitakan bahwa Poencer tak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan melanggar Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Belum lama Poencer berdiri. Umurnya lima bulan.
Musim liburan sekolah telah tiba. Tingkat hunian hotel, biasanya melonjak. Kerjaan pegawai hotel ikut melonjak. Terlebih Cisarua merupakan jalur wisata.
Eva, 25 tahun, berdiri setengah membungkuk di lengangnya restoran hotel yang lebarnya dua kali lapangan tenis. Ia sendiri, seolah bisu restoran terpecah. Ia sedang menuangkan air putih ke tatanan rapi deretan gelas di atas meja besar, dimana santapan prasmanan tersedia.
“Selamat siang mbak.”
“Siang,” jawabnya, diikuti senyum.
“Bisa minta waktunya buat wawancara? Kita lagi dikasih tugas buat wawancara orang. Kita dari pelatihan.”
“Ooh bisa. Disini aja yak, soalnya kerjaan saya belum beres?” .
Wawancara sedianya berdiri, seperti sedang tawar menawar sepatu di Pasar Johar, Semarang. Ia sedang sibuk dan kami mungkin mengusik, walau senyum terus ia lempar kepada saya. Maaf, Eva.
Panitia menugaskan reportase singkat, yang hasilnya akan dievaluasi malam hari nanti, oleh Amarzan.
Reportase dilaksanakan tim. Satu tim dengan saya, Eko Setiawan (Universitas Indonesia, Depok), Eko Handjatmeko (Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta), Fiti Amaliya (Universitas Negeri Surabaya) dan I Wayan Agus (Universitas Udayana, Bali).
Sebelumnya kami berdiskusi ihwal pemilihan topik berita. Menimbang waktu dan mempersempit bahasan, dipilihlah kehidupan pegawai hotel. Dua orang yang diwawancarai. Seorang lelaki dan perempuan.
Saya bersama Eko Setiawan, mewawancarai Eva, waitress berparas geulis. Lainnya, mencari pegawai hotel lelaki.
Tanya jawab dengan Eva, mengalir lancar. Tapi, kok tidak nyaman? Lebih enak, wawancara di beranda restoran, sembari memandang panorama pegunungan. Restoran tersebut berada di lantai dua.
“Ya, saya selesain ini dulu ya, nanti saya susul,” timpalnya, atas ajakan saya.
Di balik dinding kaca, membelakangi panorama pegunungan, saya memperhatikan Eva. Sesekali tangannya membetulkan poni yang menutup setengah dahi. Rambutnya kucir kuda. Dicat kuning emas di helai-helai tertentu. Seragam hotel bermotif batik biru-putih membungkus tubuh singsetnya. Uhuk!
Pekerjaannya telah selesai tampaknya.
Ia berjalan pelan ke beranda restoran. Buru-buru saya alihkan pandangan menghadap panorama. Ia duduk di depan saya. Sebongkah meja bundar yang menengahi. Kakinya disilangkan, sedikit menyingkap rok hitam. Stocking warna senada rok, membalut pergelangan kaki hingga di atas lutut. Seterusnya, saya tak mau berpikir macam-macam.
“Ayo mau tanya apa lagi,” tantangnya.
Sejenak saya terdiam. Wartawan amatir ditantang narasumber. Sikap Eva polos. Ia tak merasa menjadi seorang artis mendadak yang dikejar wartawan infotainment. Ia tak sombong. Suasana cair, karena seorang Eva tak henti melepas guyonan.
“Hayo, apa saya yang gantian tanya?”
“Hahaha. Iya bentar, ni lagi mau ditanyain”.
Ia memancing gelak tawa saya dan Eko. Wawancara santai. Lagi, menghibur gundah hati saya.
Ia mengaku jomblo, walau kadang pulang dijemput kawan lelaki. Ia drop-out kuliah. Alasannya, badung. Entah, ia segan menjelaskan apa kebadungannya. Digoda tamu hotel, tak jarang. Nomor ponsel, seakan pertanyaan wajib diajukan kepadanya oleh tamu yang iseng.
“Hehehe,” ringis Eva. Diberi atau tidak, nomornya? Ia tetap meringis. Jemarinya sesekali membetulkan poni. Gerik bola matanya menyingkap jawaban.
“Itu wajib tau,” jawabnya, saat saya tanyakan apakah ia sholat lima waktu atau tidak. Sholatnya jarang bolong-bolong. Hmm…
Burung-burung melintas menghias sore. Terbang bebas mengepakkan sayap. Menjadi sketsa imajinasi bukit yang diajarkan kala sekolah dasar. Bukit berbentuk segitiga, burung berbentuk “M”, macam logo McDonald.
Jabat tangan akhiri wawancara. Tangan anda halus, Eva.
***
PESERTA yang ber-reportase-ria di sekitaran hotel berhamburan kembali. Raut wajah terbingkai ceria diselingi tawa lebar. Mungkin mereka menemukan hal menarik di luar sana. Suasana lebih akrab, dekat, lebih personal.
Eko Handjatmeko mengajak saya menganalisis tulisan Membrahmana di Jalur Sulinggih. Tugas kedua dari panitia, setelah reportase. Reportase tim, digarap Eko, Agus dan Fiti. Saya sudah mengerjakan tugas reportase saya, tulis tangan. Tinggal digabung dengan garapan tim.
Tak terlalu sulit, kami membedah tulisan Amarzan menggunakan pisau pemberian Amarzan sendiri, yaitu materi jurnalistik yang ia berikan siang tadi.
Setelah tugas selesai, Hadjatmeko, yang juga seorang dosen Universitas Mercu Buana, memantik digelarnya diskusi sore itu.
Kami diskusi banyak hal di sudut hotel. Berdua. Secangkir kopi hitam menemani. Asap rokok berdansa mesra bersama uap kopi panas. Diskusi seputar dialektika-historis Marx perihal kelas, pergerakan orang-orang kiri, pembusukan Indonesia, hingga Ahmadiyah. Wawasannya luas. Ia cerdas dalam mengungkapkan pikiran. Ia saya ajak berkunjung ke Salatiga.
Peserta lain, berkutat kesibukan yang mereka temukan. Ada yang santai klepas-klepus asap rokok. Ada yang kaku melototkan mata di depan laptop menggarap reportase. Ada yang bicara ngobrol santai cewek-cowok tentang pengalaman masing-masing. Ada pula yang bingung mencari pinjaman laptop.
Sore meredup, menanti datangnya malam pekat. Burung-burung pulang ke sarang.
***
“TANGAN-tangan tak terlihat”. Sepotong bagian kalimat tersebut diucapkan Faris, mahasiswa IPB, di sesi pembahasan reportase. Ia sedang membaca hasil reportase berjudul Wisata Spanduk. Amarzan langsung menyergah, dianggapnya kalimat tersebut “aneh”. Jauh panggang dari api. Melebar dan terlalu makalahisme.
“Tangan-tangan tak terlihat” (invisible hand) yang ditulis kelompok tadi merujuk pemikiran Adam Smith pada buku The Wealth Nation (1776). Pemikiran yang menyerahkan “segalanya” pada mekanisme pasar, mengesampingkan campur tangan pemerintah (government).
Pada sesi pembahasaan hasil reportase, Amarzan kerap menyinggung tulisan “melebar” serta inefektifitas bahasa. Setiap kalimat buatan peserta, ia kritik bila dianggapnya tak bagus. Tapi bila ada penggunaan bahasa yang enak, ia tak pelit pujian.
Ia menyarankan hati-hati memilih judul berita. Jangan terjebak judul makalahisme.
Misal, Peran Mahasiswa dalam Upaya Menuju Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Masyarakat: Sebuah Tinjauan Sosiologis. Tentu bukan judul yang baik bagi berita.
Bicara judul, Amarzan sempat memuji judul tulisan milik mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bernadette Christina Munthe, Saya Miskin, Terus Kenapa?. Singkat, padat, jelas, merangsang dan efektif.
Agus mempresentasikan hasil reportase tim, Gaji Saja, Tak Cukup Kawan!. Sungguh, garapan kami banyak kelemahan. Tapi kami tak luput dari pujian Amarzan. He he he
Selepas sesi pembahasan reportase, peserta terpecah-pecah.
Ada yang bertahan di dalam ruangan, berdiskusi dengan Amarzan. Atau ngobrol empat mata. Saya memilih merebahkan badan di sofa merah di depan ruang pertemuan. Maksud hati ingin merokok dan ngopi.
Di sofa itu ada Didik L. Pambudi dan Kaka Suminta. Nama yang disebutkan kedua adalah sekretaris umum PWI-R.
“Kamu yang dari Salatiga itu ya?” tanya Didik.
“Iya.”
“Siapa?”
“Yodie. Yodie Hardiyan.”
“Ooh, kamu yang nulis dulu terbesar dan terbaik di Asia Tenggara itu ya?”
“Iyah.”
Kaka Suminta bergabung dalam pembicaraan.
“Apa yang eksotis dari Salatiga sekarang?”
“Hmm…apa ya. Biasa aja sih. Salatiga udah banyak gedungnya sekarang.” (kebetulan sewaktu perkenalan, saya membubuhkan kata “eksotis” untuk menggambarkan kota kelahiran saya, Lhokeumawe, dan “romantis” bagi Salatiga. Tapi Kaka terbalik).
Apa yang saya duga, terjadi beberapa detik kemudian. Benar. Nama yang seakan wajib hadir, disebut. Kaka menyebut nama Arief Budiman.
Obrolan tentang romantika UKSW Salatiga mau tak mau berulang, tak terhitung untuk sekian kali dalam hidup saya. Bosan.
Mereka tampaknya salut terhadap kisah UKSW di masa lalu.
Seringkali, ketika nama “UKSW” keluar dari mulut, beberapa orang yang lebih tua dari saya, menyebut tiga nama: Arief Budiman, Ariel Heryanto dan George Junus Aditjondro. Kisah “perlawanan” di rezim Orba menjadi topik yang ditanyakan kepada saya.
Bukan hanya terjadi malam itu saja. Begitu halnya di Yogyakarta, Sragen, Bandung, Semarang, tempat yang pernah saya singgahi.
Awalnya bangga, tapi lama kelamaan, bingung. Bangga untuk apa? Untuk menunjukkan bahwa saya kuliah di tempat hebat? Yang tidak ndeso? Yang high class? Yang berkualitas? Yang tidak kalah hebat dibanding UI, IPB, UNPAD, ITB atau UGM? Bukankah itu cuma romantika? Cuma sejarah? Ah, menggelikan.
Benar-benar mengetok palu di hati saya: “UKSW itu besar. Besar karena masa lalu.”
Ya, ketiga dosen itu kini tinggal nama. Arief pasca dipecat UKSW, menjadi guru besar di Universitas Melbourne, Australia. Ariel, saya tak tahu kemana, tapi tulisannya sempat mengisi kolom Asal Usul di Kompas hari Minggu. George, kini dosen tamu di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan tulisannya kadang muncul di situs rumahkiri.net atau harian Suara Merdeka.
UKSW tenar karena mantan dosen.
Lho, lainnya? Prestasi? Kualitas? Saya tak mau komentar panjang, nanti dikira kritikus sok jagoan! Saya hanya mau menjawab perkara kuantitas. Mahasiswa UKSW, 12 ribuan kepala.
Seorang konsultan Amerika pernah memaparkan, desain kampus UKSW maksimum menampung 4 ribu mahasiswa.
Ah, persetan. Lupakan sidang pembaca.
Tawa tak kuasa meledak akibat guyonan Amarzan yang telah berada di luar ruangan. Ia bercerita tentang Israel. Sembari apel merah dikupas tangan tuanya dengan sebilah pisau lipat.
Angka 23.30 tertera di layar ponsel. Lelah. Waktunya pejam mata.
***
HARI terakhir pelatihan. Pagi-pagi sekali, peserta memadati restoran. Eva lalu lalang singkirkan piring dan siapkan makanan. Eva tetap bersinar di pagi hari. Senyum tak sekali dilemparnya kepada saya. Sikapnya tetap ramah ketika ia digoda seorang peserta.
Setelah makan pagi, sesi menganalisis tulisan Amarzan.
Beberapa tim mengkritik dan memuji tulisannya. Ada kritik yang menyorot banyaknya penggunaan tanda baca yang melelahkan pembaca hingga penggunaan bahasa.
Bersisa dua tim belum maju, salah satunya tim saya. Tinggal siapa ingin maju terlebih dahulu. Saya berdiri. Rika berdiri. Bersamaan. Kami beradu pandang, bisu bertanya siapa maju duluan. Ia tersenyum.
Saya membalas senyumnya. Ia menyilahkan saya duluan. Not ladies first, but gentleman first. Terima kasih, Rika.
Tim saya, menganalisis struktur tulisan, pengelompokkan paragraph pada bagian-bagian di stuktur “joglo”. Kritik halal dilontarkan perihal quotation (kutipan). Papar Amarzan sebelumnya, bahwa kutipan sebaiknya maksimal paragrap empat. Tapi di tulisannya, kutipan dimulai di paragraph lima.
“Tak ada karya jurnalistik yang sempurna,” ucapnya.
Oke.
Tak lupa, saya memuji tulisan Amarzan yang langsing, padat, hemat kata. Sexy.
“Kalau diumpamakan artis sinetron. Siapa itu?” tanyanya.
“Luna Maya.”
Amarzan, belum bosan saya memuji kepiawaian anda sebagai guru. Pintar, humoris, situasional, demokratis dan gokil.
Iwan Piliang mengambil kendali pelatihan. Ia bicara soal tulisannya di PressTalk, yang juga disebar ke berbagai milis. Bagi saya, tulisan Iwan bagus. Kaya kosakata. Beberapa kali saya baca di milis jurnalisme@yahoogroups.com
Tapi aneh. Kami peserta, tak membaca tulisannya dengan mata. Tapi kuping. Tulisan literair diperdengarkan oleh Iwan. Ia membacanya.
Penilaian perihal bagus atau tidak sebuah tulisan menjadi sulit. Saat mendengar tulisan dibaca, saya malah merasa janggal. Daya tangkap saya rendah. Apalagi Iwan tampaknya bukan pemain teater yang pintar baca naskah. Padahal, bila membaca dengan mata, cukup memikat hati.
Mungkin kesiapan panitia kurang. Lupa mencetak dalam lembaran.
“Setelah mendengarnya, saya merasa tulisan anda tidak enak!” kritik Rika, terhadap Iwan.
Terdengar sangat pedas di kuping.
Rika duduk di bangku terdepan. Matanya bertatap dengan Iwan. Iwan diam sebentar.
Seisi ruang terkesima sesaat, saya pun sedikit terhenyak. Aura kental demokratis terasa. Setiap orang bebas mengeluarkan pendapat. Tapi, duh, yang satu ini kok pedas sekali ya?
Mungkin karena tulisan tersebut diperdengarkan. Penangkapan makna dan tafsir dikerjakan oleh telinga. Bukan mata. Orang buta sekalipun, membaca tulisan tidak dengan cara diperdengarkan. Tapi membaca huruf braille, dengan jari.
Mungkin, Rika tersulut. Bila Rika membacanya dengan mata, bukan diperdengarkan, mungkin Rika bakal naksir.
Iwan mengucapkan terima kasih atas kritik Rika. Saya salut, Iwan bukan penulis sombong. Ia tak lantas membesarkan kepala atau mencuatkan ego, ia mau rendah diri.
Sesi ramah tamah perpisahan dimulai. Piagam penghargaan “sudah mengkuti pelatihan” dibagi. Amarzan yang membagi.
Beberapa peserta bertukar nomor ponsel dan e-mail.
“Diisi donk,” minta seorang peserta, meyodorkan buku untuk diisi.
Letupan guyon tak terhindarkan. Ada yang nyeletuk, “kayak apa aja, apa ya besok langsung mau imel-imelan dan telpon-telponan.”
Ha ha ha…
Saya juga berpikir sama. Apa iya, setelah pelatihan berakhir, semuanya akan saling kontak? Bukankah ini hanya pelatihan sesaat? Apakah berkesan? Apakah terkenang? Semua pasti akan tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Boro-boro memikirkan kontak, pelik hidup lebih rumit dan menyita waktu untuk dipikir.
Saya sempat bertanya dengan kawan sekamar saya, kang Pri.
“Kang, apakah kita masih bisa bertemu lagi suatu saat?”
“Mengapa tidak. Sok atuh, kalau maen ke Bandung, mampir.”
Eugene Garcia, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia dan Gloria Natalia, mahasiswa FIKOM Unpad, menjadi ketua dan sekretaris “ikatan alumni angkatan pertama literary journalism workshop”.
Tugas mereka, mempererat tali silaturahmi antar peserta agar tak putus begitu saja. Caranya, membuat milis, friendster, blog atau website.
Simpel, tapi butuh tanggungjawab.
Semoga antar peserta dapat bertemu kembali dengan kartu pers terkalung di leher. Ketika pilihan hidup jatuh kepada jurnalistik. Dan berjumpa saat meliput ibukota Indonesia, Jakarta, digoncang revolusi sosial. Proses menuju Indonesia Baru.
Revolusi. Entah kapan, utopia itu terjadi.
***
AMARZAN berbicara kepada saya dan Satria, boleh mengikuti rapat evaluasi mingguan di TEMPO. Dua hari setelah pelatihan, Selasa pukul 11.00. Tawarannya untuk ikut rapat tak akan kami sia-siakan. Saya siap datang di rapat majalah legendaris Indonesia!
Sebelum berpisah, seluruh peserta dan panitia, mengadakan foto bersama berlatar belakang baliho hijau, di depan hotel.
Di situ saya terakhir menatap Windi Al-Zahra (yang ternyata mantan tetangga saya di Bumi Menteng Asri, Bogor), Iwan Piliang, Didik L Pambudi (ternyata juga seorang seniman), Kaka Suminta, Rika Febriyani, Nandami Mahargina, dan lainnya.
Materi pelatihan di Poencer, sekitar 70 persen isinya senada buku Seandainya Saya Wartawan TEMPO, terbitan Institut Arus Studi Informasi, yang telah saya khatamkan dua kali.
Minibus menuju Jakarta. Melaju lambat. Tercekat macet arus balik liburan sekolah. Poencer tak terlihat lagi.
Yodie Hardiyan
Salatiga,
di kemarau Juli yang dingin..
[...] Kenangan Poencer oleh Yodie [...]
[...] Pada suatu kesempatan di Cisarua, Bogor, saya berbincang dengan pengurus sebuah organisasi kewartawanan Indonesia. Tahu saya dari UKSW, ia cukup antusias. Ngobrol-ngobrol seputar keharuman UKSW, yang di masa lalu. Maaf, bukan yang sekarang, 2008. [...]
Ah, ket awal tekan entek isine wedok ae ….
[...] Pada suatu kesempatan di Cisarua, Bogor, saya berbincang dengan pengurus sebuah organisasi kewartawanan Indonesia. Tahu saya dari UKSW, ia cukup antusias. Ngobrol-ngobrol seputar keharuman UKSW, yang di masa lalu. Maaf, bukan yang sekarang, 2008. [...]
[...] ikut pelatihan nulis jurnalisme literair Persatuan Wartawan Indonesia-Reformasi di Puncak dan pelatihan nulis artikel Kompas di Semarang, kok saya bisa, mau dan punya semangat perhatikan [...]